Break With You Verry Hurt// part 1

1397035_921551614542224_2514059338854109508_o

Title                       : Break with You Very Hurt (Part 1)

Author                  : PyuChan

Gender                                : Sad,Romance

Cast                       :  – Park Hyunmie – Cho Kyuhyun

– Lee Donghae – Tuan dan Nyonya Cho

– Jang Haera.

Note                  : Ada yang rindu padaku? Ah sepertinya tidak. Kali ini aku membawa FF permintaasn dari Hyunmie eonni, yah kau berusaha untuk membuat FF yang di tentukan oleh eonni, hal yang memang sulit dan waktu pengerjaannyapun sekitar setahu, selain karena kendala itu, aku sendiri juga sibuk, maklum sudah semester 7 hohoho. Sebenarnya FF ini sudah selesai tinggal ngepost ajaw dan ini chapter pertama, mungkin FF ini ada 4 chapter. Semoga kalian menyukainya😀

Note YJK :Annyeong YJK imnida, disini aku mau promosi FF saengku PYUCHAN, sebenarnya FF ini mau aku yang buiat, tapi karena aku sedang sibuk buat persiapan kerja, akhirnya aku hanya kasih ide ini sama saeng pyuchan dan di kembangkan, hehehe walapun aku tahu dia juga ga kalah sibuknya sih tapi makasih banget udah mau bikin cerita ini, aku yakin ko ga kalah seru sama ceritaku, jadi silahkan beri banyak cinta untuk ceritanya.

Author P.O.V

Seorang gadis tengah menyusuri sungai Han, mata hazelnya tampak begitu lelah. Sudah sekitar satu jam ia menyusuri sungai Han mencoba untuk mencari sebuah ketenangan yang tak kunjung datang, hingga ia berhenti pada sebuah bangku yang menghadap keindahan sungai Han. Gadis manis itu menyandarkan punggungnya, membiarkan kaki rampingnya yang lelah untuk beristirahat dan memandang sang matahari yang telah lelah menyinari bumi dan hendak beristirahat pada persembunyiannya. Menampakkan cahaya orange dan jingga yang begitu indah yang membuat mata manusia menampakkan kebahagian namun, mata hazel itu malah mengeluarkan Kristal bening yang tak di biarkan oleh tangannya untuk jatuh di permukaan pipinya. Mungkin, jika kalian melihat gadis mungil nan manis itu, kalian akan berpikir kalau ia telah di campakkan kekasihnya. Mungkin itu salah, karena seingat gadis itu ia tak pernah memiliki kekasih, tapi itu juga benar karena hatinya terasa sakit karena merasa di campakkan.

Selang beberapa saat ketika tangan mungilnya menghapu jejak-jejak Kristal bening di pipinya yang bersemu pink, Kristal itu kembali turun. Mungkin, hari ini adalh hari dimana gadis itu menangis sangat lama. Mungkin hatinya sangat merasa sakit, tapi saat ia kehilangan orang tuanya dia masih bias tegar tapi kenapa kali ini ia merasa, ia tidak bias menghentikan tangisannya itu.

“Hentikan! Kita hentikan saja ini semua Park Hyunmie!.” Satu kalimat terngiang di telinga gadis itu, kalimat yang terbentuk dari sebuah suara yang berasal dari bibir sensual namja tampan bak dewa zeus. Gadis mungil yang bernama Park Hyunmie itu memandang ketengah sungai Han yang seakan menjanjikan ketenangan jika ia menghilangkan tubuhnya di sana. Yah,hal itu terlintas di pikiran gadis itu, tapi hal itu segera ditepiskannya. Baru sedetik matanya tak kosong kini mata itu kembali kosong, menelusuri lorong waktu, waktu dimana semua kegalauan hatinya itu dimulai.

Flashback

“Ayo kita akhiri saja ini.” Kata namja tampan itu pada gadis mungil yang sedang duduk di hadapannya saat setelah mereka menyelesaikan sarapan mereka di ruang makan di appartement mewah milik namja menawan itu. Merekan berdua duduk berhadapan di meja persegi yang mungkin cukup untuk enam orang. Hyunmie menatap sendu Kyuhyun yang malah menatapnya dengan garang.

 “Waeyeo oppa?” Tanya sanga yeoja mungil yang bernama Park Hyunmie itu pada namja yang begitu tampan dan menawan, ah bahkan kata tampan dan menawan tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana rupa dari namja yang sedang berada di depannya itu. Namja yang diam-diam telah mencuri hati sang gadis mungil tanpa seijin gadis itu dan tanpa sepengetahuan namja itu pula. Namja tampan yang telah mencuri hati sang gadis itu adalah Kyuhyun-Cho Kyuhyun. Seorang CEO muda yang sukses dan handal, seorang putra mahkota dari kerajaan bisnis Cho-coorperation. Bukankah dia namja yang sangat sempurna? Kaya, tampan, berkedudukan tinggi, bukankah kenikmatan dunia bagi yeoja yang bias mendapatkan namja sepertinya?

 “Aku ‘tak bisa hidup bersama denganmu lagi. Aku sudah berusaha untuk menerimamu. Tapi tetap saja aku tak bisa, hatiku selalu mengatakan kau wanita yang menjijikkan.” Katanya dengan dingin dan begitu tajam. Mungkin jika pandangan mata bisa membunuh, saat itu juga, Hyunmie hanyalah tinggal sebuah nama dari seorang gadis bermata hazel. Dibalik kesempurnaan itu, inilah sifat buruk Cho Kyuhyun, dingin, angkuh, arogan dan berapi-api.

“Aku yang menjijikkan atau karena yeoja ‘tak tahu malu yang menggoda tunangan orang?” tanya Hyunmie nanar. Sungguh, dia tidak bisa menerima dengan apa yang dia dengar saat ini. Berpisah dari Kyuhyun bukankah itu berarti ia harus pergi dari kehidupan Kyuhyun? Harus menjauh darinya? Tidka bisa melihatnya itu berarti ia tidka bernafas dan itu artinya adalah sebuah kematian bagi Hyunmie.

“Tutup mulut menjijikkanmu itu nona. Kau tahu? Dari ujung rambut sampai ujung kaki kau itu menjijikkan bagiku.” Kata Kyuhyun yang tiba-tiba saja berdiri dari kursi makan dan langsung mengenggam pipi Hyunmie dengan satu tangannya.

“Hajiman…” Hyunmie menhempaskan tangan Kyuhyun yang tengah menyakiti salah satu bagian wajahnya itu namun, suaranya tetap lirih dan lembut. Ya, itulah Hyunmie seorang gadis yang begitu lembut dan baik hati tapi kenapa hatinya yang lembut itu bisa dengna mudahnya jatuh cinta pada seorang namja keras seperti batu layaknya seorang Cho Kyuhyun?

“Aku yang menjelaskan pada eomma. Aku tidak bisa meneruskan hubunganku dengan wanita seperti mu, wanita yang hanya mengincar harta ku dan keluargaku tak beda dengan seorang pelacur. Apa eommamu yang mengajarkanmu semua ini? Kau dan eommamu sama-sama menjijikkan.” Kata sang namaj dengan smirk setannya yang mengerikan, sungguh perkataan itu menusuk ulu hati seorang Hyunmie.

“GUMANHAE KYU!” teriak gadis mungil itu marah, saking marahnya tanpa sadar Hyunmie telah melepaskan singgasana yang menopang tubuhnya yang mungil. Berdiri mensejajarkan tubuhnya seperti Kyuhyun walaupun ia sadar itu tidak akan mungkin karena perbedaan tinggi badan mereka yang begitu jauh. Seandanya tidak ada meja diantara mereka, Hyunmie sudah mencengkram kerah Kyuhyun dan mencakar wajah tampan namja itu.

“Apa aku salah?” Tanyanya dingin kepada Hyunmie. “Ani” dia menjawab dengan sinis pertanyaan yang ia ajukan sendiri. “Kau berpura-pura menyelamatkan eommaku dari percobaan tabrak lari. Sedangkan usaha tabrak lari itu adalah rencanamu untuk membuat dirimu dekat dengan keluargaku. Yah, rencanamu sebelumnya adalah menolong eommaku lalu menerima beberapa juta won namun, kau malah menerima hadiah yang jauh lebih besar. Kau malah mendapatk Jackpot yang benar-benar besar.” Katanya tanpa perasaan kepada Hyunmie yang menatap nanar Kyuhyun. “Kau akan dinikahkan denganku, dan kaupun berpikir untuk menerimanya, karena dengan menikah denganku kau akan jauh mendapatkan lebih banyak. Setelah kau menikah denganku, kau akan menguras hartaku dan kabur, sepertinya eommamu mengajarrimu dengan baik, aku yakin eommamu adalah pelacur dan wanita murahan yang terkenal di Seoul sehingga kau sangat handal seperti ini.” Kata Kyuhyun sambil duduk kembali pada singgasananya dan bersandar di sana, menyilangkan kakinya yang panjang yang hanya terbalut celana kain biasa namun begitu sempurna melekat pada kakinya itu.

Plakk! Hyunmie menamparnya, akhirnya tangan yang sedari mengepal, berusaha menahan amarah, kini terlepas begitu saja. “Gumanhae. Aku bukan wanita yang seperti itu! Dari dulu aku selalu diam ketika kau menghinaku tapi tidak dengan eommaku. Orang tuaku. Kau ‘tak tahu apa-apa tentang mereka.” kata Hyunmie geram dengan air mata yang telah berada di ujung kelopak mata hazelnya yang indah. “KALAU KAU INGIN MEMUTUSKAN PERTUANGAN KITA! KAU TAK PERLU MENGHINAKU SEPERTI INI TERUTAMA ORANG TUAKU. TAHU APA KAU TENTANG ORANG TUAKU? KAU ‘TAK TAHU APA-APA!” Teriak Hyunmie padanya. Sepertinya namja yang bernama Cho Kyuhyun itu sedikit terkejut dengan oktaf yang Hyunmie gunakan karena nyatanya baru kali  ini gadis mungil itu menaikkan oktaf suaranya. Walaupun dia marah, biasanya ia akan menjaga oktaf suaranya. Hyunmie masih ingat yang diajarkan eommanya untuk menjadi wanita yang kuat namun harus tetap menjaga kodratnya sebagai makhluk Tuhan yang lemah lembut. Gadis itu menghembuskan nafasnya guna untuk meredamkan amarahnya. “Gurae, ayo kita akhiri.” Katanya sambil melangkah pergi, ia sambar jaket selututnya yang tergantung di gantungan jaket yang terletak dekat pintu. Lalu ia  tinggalkan appartement itu.

Flashback end

Dan berakhirlah gadis mungil bermata hazel nan indah itu di sini, di sungai Han yang menjanjikan sebuah ketenangan. Ia melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya, ternyata sudah jam lima petang. Ia putuskan untuk kembali ke appartemen Kyuhyun, yah selama satu tahun ini ia tinggal satu atap dengan namja yang telah menjadi tunangannya tapi, tetap mereka memiliki kamar yang berbeda. Tak mungkin Kyuhyun sudi satu kamar dengan wanita yang dia anggap menjijikkan, wanita pelacur yang sangat murahan, yah dia selalu menganggap gadis mungil bernama Hyunmie  seperti itu. Tapi, tahu apa Kyuhyun tetang Hyunmie? Kyuhyun tak pernah tahu apapun tentang Hyunmie. Tapi, sebelum Hyunmie pulang ke appartement itu, ia harus menuju ke suatu tempat untuk menyelesaikan masalahnya.

Ia langkahkan kaki indahnya meninggalkan ketenangan yang diberikan sungai yang begitu indah itu menuju ke suatu tempat untuk mengakhiri keadaan yang begitu membuat hatinya lelah dan berdarah. “Tuhan, bantu aku!” doanya dalam hati.

***

Hyunmie pandangi benda yang melingkar di pergelangan tangan mungilnya yang telah menunjukkan jam sebelas malam lebih, hampir tengah malam. Sekarang, di sinilah gadis mungil itu, di depan pintu appartement yang tadi pagi ia tinggalkan. Kini perlahan ia buka pintu di hadapannya setelah ia memasukkan serentettan angka yang ia hafal sebagai kunci untuk membuka pintu appartement.

“Huft!” ia buang nafasnya malas karena pemandangan pertama ketika ia membuka pintu itu adalah sepasang sepatu wanita. Gadis itu melangkahkan kakinya ke ruang tengah dan sebuah adegan yang membuat matanya terbakar dan juga ingin meleleh. Cho Kyuhyun sedang bercumbu dengan Jang Haera di atas sofa.

Tanpa ambil pusing ia langkahkan kakinya melewati mereka, menuju kamarnya yang tepat berada di belakang tempat dimana mereka melakukan hal nista dan menjijikkan. Dan sepertinya hal tersebut menarik sedikit perhatian Kyuhyun. “Kau darimana?” tanyanya dengan suara yang begitu dingin namun berhasil menghentikan langkah Hyunmie.

“Sayang, kau pulanglah dulu hem?” katanya begitu lembut pada wanita tak tahu malu itu.

“Hm, jangan lupa menelfonku.” Katanya setelah merapikan pakaiannya dan kemudian mencium pipi Kyuhyun, hal yang belum pernah Hyunmie lakukan walaupun dia adalah tunangannya dan sepertinya tidak akan pernah ia lakukan. Yah, mungkin karena ia akan segera mewujudkan keinginan terbesar dari namja itu dalam hidupnya ini.

Sebenarnya Hyunmie telah lelah mencintai Kyuhyun selama setahun ini, dan berkali-kali melihat kemesraan Kyuhyun dengan wanita lain yang sepertinya di sengaja oleh Kyuhyun dipertontonkan kepada gadis itu. Yah, awalnya dia bercumbu dengan sekertaris lamanya, kemudian wanita club, teman kecannya lalu yang terbaru adalah Jang Haera, sekertaris barunya yang sexy. Bagaimanapun Hyunmie bukanlah seorang yeoja yang menjadi tokoh utama di dunia fiksi, yang mencintai namjanya yang walaupun hatinya disakiti berkali-kali namun, yeoja itu tetap mencintai namjanya. Hyunmie bukan yeoja seperti itu, maaf saja, dia hanya manusia biasa, bukan juga seorang malaikat atapun yeoja berhati malaikat. Yang disakit berkali-kali akan terus bertahan. Hyunmie bukan seperti itu, sudah cukup setahun ini, tidak untuk lebih lama.

“Tunangan macam apa kau! Tengah malam baru pulang hah?” katanya sambil menghampiri gadis yang saat ini tengah bersiap menuju pada kamarnya, saat setelah Haera meninggalkan appartement sang dewa sensual ini.

Hyunmie menatap mata dingin Kyuhyun yang tengah menatapnya sangat jauh berbeda saat ia menatap Jang Haera, seorang yeoja yang ‘tak tahu malu, yeoja yang baru dikenalnya sekitar tiga bulan terakhir, seorang yeoja yang begitu cantik dan seksi mungkin ia setara dengan Hyorin. Ah ani, mungkin ia memang memermak wajah dan tubuhnya untuk meniru Hyorin. Karena Hyunmie bisa melihat implant-implant itu dalam tubuhnya. Sungguh tidak asli.

“Kenapa kau hanya diam? Kau merasa salah? Sepertinya aku…”

“Ani, aku tidak merasa bersalah sama sekali Cho Kyuhyun-ssi.”Potong gadis itu dengan mencoba untuk menatapnya dingin juga. “Well, see! Aku bukan lagi tunanganmu Cho Kyuhyun-ssi.” Hyunmie menunjukkan jarinya yang tidak begitu lentik namun tetap indah dan terlihat begitu feminism dan yang sekarang telah polos ‘tak berhiaskan sesuatu yang melingkar di sana.

“Kau kemanakan….”

“Kau tenang saja, aku tidak menjualnya, aku sudah memberikannya kepada eommanim. Aku sudah menjelaskan semuanya padanya dan juga abbeonim.”

“Joha, jadi kau bisa pergi dari hidupku secepatnya.”

“Sebegitukah bencinya dirimu padaku?” Tanya Hyunmie miris.

“Ne, aku sangat membencimu, aku membencimu hingga tulang sum-sumku yang paling dalam.”

“Gurae aku akan…”  Tiba-tiba saja kalimat Hyunmie terputus karena smartphonenya yang berwarna menthalic pink itu berdering.

“Yebboseyeo” angkat gadis manis itu.

“…”

“Hem?”

“….”

“Gurae?”

“……”

“Joha”

“….”

“Nde, gomapta. Hem.” Katanya dengan senang dan kemudian menutup pembicaraan itu. “Sepertinya keinginanmu akan cepat terwujud Cho Kyuhyun-ssi.” Kata Hyunmie sambil meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri pada tempatnya.

“Apa maksudmu?”

Tanpa menjawab pertanyaan Kyuhyun itu, Hyunmie langsung melenggangkan kakinya menuju kamarnya. Menutup pintu dan kemudian mengedarkan mata haczelnya menyisiri ruangan tersebut. Ruangan yang sering ia sebut sebagai kamarnya, ia masih ingat ketika pertama kali dirinya datang ke appartement ini. Membawa harapan suatu saat nanti Kyuhyun bisa menganggapnya sebagai wanita, merasakan kehadirannya, dan membalas cinta yang begitu tulus ia berikan kepada namja yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Flashback

Hari sudah mulai petang, saat ini sudah hamper jam tujuh malam, Hyunmie berdiri di depan sebuah gerbang yang sangat besar. Di balik gerbang itu terdapat sebuah rumah yang begitu mewah. Akhirnya, setelah ia memantapkan hati di sungai Han, Hyunmie melangkahkan kakinya di sini. Tanpa ragu lagi, ia langkahkan kakinya menuju rumah mewah itu.

-Ting tong- Hyunmie menekan bel rumah itu, ‘tak lama terbukalah pintu putih yang mewah itu dan terlihat seorang wanita paruh baya yang memakai seragam kepala rumah tangga.

“Nona Hyunmie, Annyeonghaesimnika. Silahkan masuk nona” Sapanya dengan sopan dan ramah.

“Kim ahjuma annyeong. Apa eommanim ada di dalam?” Tanya Hyunmie sambil masuk kedalam rumah itu. Ia memandang wanita paruh baya yang selalu dipanggilnya Kim ahjumma itu, wanita yang telah menjadi kepala rumah tangga bertahun-tahun di rumah mewah yang merupakan kediaman keluarga Cho Kyuhyun.

“Tidak, tuan dan nyona besar belum datang mungkin sekitar satu jam lagi” jawab Kim ahjumma yang mengekor di belakang Hyunmie.

“Kalau begitu bisakah aku melakukan sesuatu di rumah ini?” Tanya Hyunmie sambil memandang Kim ahjumma.

“Nde?” nampaknya Kim ahjumma sedikit bingung dengan perkataan yeoja mungil nan penuh senyum dan juga baik itu, yeoja yang telah menjadi tunangan tuan mudanya itu.

Hyunmie segera menuju tempat di bagian rumah itu, salah satu tempat yang paling dia sukai di rumah itu, dapur. Dia ingin sekali memasak untuk dua orang yang selama setahun ini telah menjadi figure orang tua bagi Hyunmie begitupun sebaliknya, mereka adalah orang tua Kyuhyun, Ya, Hyunmie sangat menyayangi mereka. Yah, walaupun mungkin ini adalah masakan terakhirnya sebagai calon menantu keluarga Cho. Hyunmie menyibukkan dirinya di tempat yang bernama dapur itu dengan bahan-bahan yang telah ada.

Yah, memang tepat tebakan Kim ahjumma. Setelah satu jam berkutat di dapur dan berhasil menghasilkan beberapa sajian favorite orang tua Kyuhyun, terdengar suara sepasang manusia yang begitu mesra dengan cara mereka sendiri.

“Ouh, bau makanan ini….” suara sang pria yang masih tampan di usianya yang begitu sudah tidak muda lagi.

“Hyunmie” sang wanita yang masih cantik di usianya sekarang ini, tersenyum begitu cerah saat mengucapkan nama itu. Iya, mereka berdua hafal betul harum masakan Hyunmie yang tercium saat setelah mereka memasuki pintu utama rumah mewah itu.

“Lihat menantu kita datang.” Kata sang pria saat melihat Hyunmie tengah menyiapkan makanan di atas meja makan.

“Anyeonghaseyo abbeonim, eommanim.” Sapa Hyunmie sopan yang masih menggunakan appronnya dan rambut panjangnya yang berwarna dark brown itu, ia gelung ke atas, ketika sepasang suami istri itu berjalan mendekat kearah meja makan.

“Kau datang sendiri?” Tanya tuan Cho yang langsung duduk di kursinya.

“Nde.” Jawab Hyunmie sopan.

“Kau tidak bersama Kyuhyun?” Tanya nyonya Cho yang ikut duduk di kursinya.

“Ani, sebenarnya aku ke sini tanpa sepengetahuan Kyuhyun oppa dan ada hal yang ingin aku katakan pada abbeonim dan eommanim.”

“Apa itu” Tanya tuan Cho heran.

“Aku akan mengatakannya setelah kita makan malam dan melihat abbeonim menghabiskan masakanku yan aku masak penuh dengan cinta ini untuk eommanim dan abbeonim.” Kata Hyunmie dengan wajah yang ceria.

“Gurae, aku akan menghabiskan makanan yang dimasak oleh calon menantuku ini.” Ucap tuan Cho semangat, dan diikuti kekehan tawa sang nyonya Cho dan Hyunmie. Namun, di tengah kekehan itu, feeling seorang ibu dari nyonya Cho menangkap bahwa ada hal yang kurang baik tersirat di wajah calon menantunya itu.

Sepertinya tuan dan nyonya Cho begitu bahagia menghabiskan makan malam mereka dengan Hyunmie. Mereka sangat merasa nyaman ketika Hyunmie memasak untuk mereka memberikan perhatian kepada mereka ketika makan seperti ini. Begitupula dengan Hyunmie, ia senang bisa melayani dan mengabdikan dirinya pada orang tua Kyuhyun, pengabdiannya sebagai seorang putri yang hampir tidak bisa ia wujudkan selum ia bertemu dengan sepasang manusia yang begitu baik yang sekarang berada di hadapannya. Hyunmie tersenyum bahagia ketika semua masakannya telah habis tak tersisa oleh nyonya Cho dan tuan Cho.

Setelah makan malam itu, mereka kini terjebak dalam keheningan setelah meja makan itu bersih dari sajian yang lezat itu.

“Jah, apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya tuan Cho.

“Naneun…” Hyunmie sedikit ragu untuk mengatakannya. Ragu karena takut akan menyakiti hati sepasang manusia yang berhati malaikat yang sudah ia anggap sebagai orang tua mereka. Sepasang manusia yang berhati malaikat namun sayangnya memiliki anak yang berhati iblis.

“Jangan ragu untuk mengatakan apa yang ingin kau katakan nak.” Ucap nyonya Cho dengan lembut sambil menggenggam tangan Hyunmie yang berada di atas meja. Bermaksud untuk memberikan sedikit kekuatan pada yeoja yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri itu.

“Sebelumnya saya minta maaf jika pernyataan saya ini akan menyakiti abbeonim dan eommanim. Bukan karena saya sudah tidak menghargai kasih sayang kalian lagi, bukan karena saya tidak bersyukur mendapatkan kasih sayang kalian, bukan karena saya tidak tahu diri karena telah di pungut oleh kalian….” Hyunmie mulai mengutarakan maksudnya dengan sedikit air mata yang meleleh dipipinya.

“Kenapa kau berbicara begitu formal Hyunmie-ya? Jangan berbicara terlalu formal, eoh?  Apa yang di lakukan anak kurang ajar itu padamu?” Tanya tuan Cho yang tidak terima melihat calon menantu kesayangannya itu menangis. Ia berasumsi bahwa putra satu-satunya telah melakukan sesuatu pada calon menantunya itu.

“Ani, ini bukan karena Kyuhyun abbeonim, ini karena aku, karena hatiku, karena hatiku sudah tidak bisa bertahan.…”

“Apakah Kyuhyun masih…”

“Ani.” Potong Hyunmie di tengah geraman tuan Cho. “Abbeonim, tolong jangan marah, jaga tekanan darah abbeonim. Hem” Hyunmie mencoba untuk menenangkan calon ayah mertuanya yang mungkin akan menjadi mantan calon mertuanya.

“Hyunmie, apapun yang dilakukan Kyuhyun, apapun yang di katakan Kyuhyun untuk menolak perjodohan ini, kami tahu siapa dirimu, sedikit banyak kami tahu tentang orang tuamu, kami tidak bisa melakukan apa-apa untuk kedua orang tuamu. Beruntung kau menyelamatkan aku dulu sehingga aku bisa mengenalimu dan merawatmu sebagai anak.”

“Eommanim, gamsahamnida.” Isak Hyunmie. “Gugae, mianhamnida. Aku tidak bisa menjadi tunangan Kyuhyun lagi.” Hyunmie menarik benda yang berkilau yang melingkar  di jari manisnya itu.

“Hyunmie…” guman tuan Cho.

“Mianhamnida abbeonim, eommanim. Ku kembalikan ini pada kalian.” Kata Hyunmie menyerahkan benda berkilau yang mengikatnya dengan Kyuhyun. “Gugae, tanpa cincin ini, tanpa tunangan ini apakah aku masih bisa menjadi putri kalian?” Tanya Hyunmie yang masih terisak. “Terlepas dari ini semua, aku sungguh sangat bahagia saat menjadi putrid kalian.”

Nyonya Cho segera berdiri dari tempat duduknya, memutari meja dan memeluk Hyunmie. “Tentu, kau masih menjadi putri kami, putri kesayangan kami, dan kau akan tetap menjadi putri kami apapun yang terjadi walaupun namja setan itu menentangnya.”

“Sejujurnya, apa yang kami lakukan ini ‘tak sebanding dengan apa yang orang tuamu lakukan untuk kami.” Kata tuan Cho. “Aku yakin, suatu hari nanti Cho Kyuhyun akan menyesal karena menyia-nyiakan gadis sebaik dirimu. Dan ketika itu tiba, ketika ia mengejar cintamu, ketika dia mengiba padamu, membutuhkanmu, kalau kau ingin mencampakkannya, aku akan mendukungmu.” Ucap tuan Cho memberikan semangat kepada Hyunmie.

“Gamshahamnida abbeonim.” Hyunmie tersenyum di tengah air matanya yang mengalir deras karena mendengar perkataan tuan Cho. Hati Hyunmie menjadi sedikit geli, bagaimana mungkin tuan Cho lebih memilih mendukungnya daripada putranya yang menyebalkan itu?

“Jah, peluk appamu ini nak.” Kata tuan Cho merentangkan tangannya yang kemudian di sambut Hyunmie yang langsung menghambur di dalam pelukan hangat seorang ayah yang telah lama hilang dari hidupnya. “Semoga kau menemukan namja yang baik untukmu nak, walaupun aku masih mengharapkan  bahwa kaulah menantuku..”

“Abbeonim…” Hyumiie memprotes kalimat dari tuan Cho, ia benar-benar tidak ingin membahas hubungannya dengan Kyuhyun.

“Arra, nan arrayeo. Jah, ku harap kau menemukan yang terbaik di hidupmu.”

“Gamsahamnida abbeonim.” Kata Hyunmie sambil melepaskan pelukan tuan Cho. Mungkin mulai saat ini aku tidak akan tinggal di appartement Kyuhyun lagi. Kami sudah tidak ada ikatan apapun.”

“Lalu kau akan tiinggal dimana? Kalau kamu mau kau bisa tinggal di sini.”

“Ani, aku sudah menghubungi seseorang untuk mencarikan tempat tinggal untukku.”

“Lakukan sesukamu, buat hidupmu bahagia dan sering-seringlah mengunjungi orang tua ini nak.” Kata tuan Cho sedangkan nyonya Cho masih terisak.

“Yah, eomma akan mendukung keputusanmu.” Nyonya Cho tersenyum dan memeluk Hyunmie sekali lagi.

Flashback off

Hyunmie masih bersandar di pintu kamarnya, ia memandang kamarnya kosong. “Appa, eomma, nan gaseumi apo, jeongmal appeuda.” Hyunmie memukuli dadanya, kini ia terlihat menyedihkan dengan air mata yang mengalir deras dan dirinya yang terduduk dilantai yang dingin itu. Ia masih terisak merasakan sakitnya perasaan yang tidak dihargai, yah walaupun hanya satu tahun, satu tahun? Hanya? Satu tahun cukup untuk Cho Kyuhyun membuat Hyunmie jatuh cinta dan terpuruk begitu saja seperti saat ini. Terutama ketika setan menawan itu menghina kedua orang tuanya.

“Andwae, kenapa aku terpuruk seperti ini?” Tanya Hyunmie pada dirinya sendiri. “Maldo andwae Hyunmie-ya, maldo andwae jika kau terpuruk karena setan itu dia kan semakin tertawa bahagia, kau pernah mengalami hal yang lebih menyakitkan dari ini. Kuatkan dirimu atau setan itu akan merasa senang dan semakin menginjak-injak harga dirimu.” Ucap Hyunmie sambil bangun dari keterpurukannya dan menghapus air matanya.

Kemudian, gadis mungil itu mengeluarkan tas pakaian yang berada di lemari kecilnya itu, memasukkan semua benda yang ia butuhkan. Pakaian, make up, dan barang-barangnya ke dalam tas kecil itu, Hyunmie bukanlah gadis yang suka membeli ini itu yang tak berguna, Ia gadis sederhana, sehingga tas kecilpun mampu melahap semua barang-barangnya.

Lima belas menit berlalu, setelah merasa barangnya telah masuk ke dalam tasnya, ia menelusuri kamar itu, memastikan tidak ada satupun barang yang tertinggal.”Sepertinya sudah semua.” Katanya pada dirinya sendiri.

Hyunmie P.O.V

Jam setengah dua malam ah ani, jam setengah dua pagi, ah sejujurnya aku tidak peduli tentang jam berapa sekarang ini, yang aku perdulikan adalah segera enyah dari appartement milik setan ini, pergi dan menjauh dari hidupnya, walaupun kau merasa sesak. Namun, menghina kedua orang tuaku adalah hal yang tidak bisa kumaafkan begitu saja, menghina orang tuaku tanpa tahu sedikitpun tentang mereka adalah kesalahan yang paling tidak bisa ku maafkan dari seorang Cho Kyuhyun.

Saat aku keluar dari kamar, aku melihatnya masih terjaga, ia masih melihat TV yang sepertinya tidak menarik untuknya, mungkin sejujurnya ia belum bisa tidur, biasanya saat seperti ini aku akan membuatkannya susu cokelat hangat dan juga cookies cokelat kesukaannya dan setelah menghabiskan itu dia akan tertidur di sofa dengan TV yang masih menyala. Aish sial, kenapa aku hafal sekali dengan kebiasaannya itu. “Lupakan tentang pria brengsek itu Hyunmie babo!” kata hatiku pada diriku sendiri.

Tanpa memperdulikan dirinya yang masih fokus terhadap TV di depannya itu, ku langkahkan kakiku. Sepertinya hal itu membuatnya menoleh ke arahku. “Neo!” dia heran melihatku belum tidur terlebih ketika pandangannya tertuju pada tas pakaian kecil ku ini. “Mau kemana kau?” Tanyanya acuh ‘tak acuh.

“Mewujudkan keinginan terbesar dalam hidupmu tentu saja.” Kataku sambil memutar tubuhku guna untuk memandangnya yang masih ‘tak beranjak dari sofa putih mewah itu. Ku lihat dahinya sedikit berkerut, kebiasaannya ketika sedang memikirkan sesuatu, ah sial kau Park Hyunmie, lupakan itu! “Mendepakku. Dari. Hidupmu. Secepatnya.” Kataku dengan mengeja kalimat itu perkata dan ku perhatikan ada sedikit keterkejutan tersirat di wajahnya ah itu mungkin hanya perasaanku saja.

“Apa kau begitu menyukaiku nona Park sehingga kau sangat ingin segera mewujudkan keinginan terbesarku” tanyanya sambil beranjak dari sofanya itu dan berdiri di hadapanku.

“Bukankah kau ‘tak suka menunda keinginanmu Cho Kyuhyun-ssi?” kataku tak menjawab pertanyaan Cho Kyuhyun tadi. “Kau ‘tak usah khawatirkan aku….” Ku gantungkan kalimat ku itu.”Ah…khawatir padaku bukanlah gayamu. Iyakan Cho Kyuhyun-ssi? Seharusnya aku katakan padamu, jangan khawatirkan hartamu. Tenang saja, aku tidak membawa sepeser hartamu, aku ‘tak pernah menyentuh mereka.” Sambungku dengan tenang.

“Tentu saja, ketika aku tahu kau menyentuh atau membawanya pergi. Akan ku kejar kau meski sampai neraka.”

“Well, selamat tinggal Cho Kyuhyun-ssi, semoga kita tidak berjumpa lagi.” Kataku sambil meninggalkan appartement ini.

Author P.O.V

Hyunmie, keluar dari appartement mewah itu, tubuh mungilnya mulai sedikit terguncang seiring air mata yang keluar dari pelupuk matanya yang cantik alami itu. Sesekali ia membenarkan rambut ikal sepinggangya yang berwarna Dark Brown itu. Selangkah demi selangkah, walaupun terasa berat pergi dari orang yang ia cintai namun, ketika ia teringat kesakitan yang ia alami, ia merasa bisa melakukannya.

Namun, baru beberapa langkah saja meninggalkan namja setan itu, dadanya sudah meresa sakit. “Apakah aku bisa menjalani hidupku tanpa melihatnya?” tanyanya dalam hati ketika ia masuk ke dalam lift. Ia masih saja menangis di dalam lift kosong itu. –Ting- Suara lift yang telah sampai pada lantai yang di tujupun berdenting. Hyunmie melangkahkan kakinya keluar dari gedung appartement mewah itu melewati lobi. Saat berada di depan gedung, langkah kakinya terhenti untuk mencari seseorang yang akan menjemputnya.

Bibirnya tersenyum, ketika seorang namja tampan walau ‘tak setampan mantan tunangannya dan tak setinggi mantan tunangannya itu menghampirinya dan meraih tasnya. Namun, tak selang seditik wajah Hyunmie berubah aneh memandang namja itu “Jangan memandangku seperti itu, aku tahu aku aneh datang kesini dengan piyamaku. Kau tahu, adikmu itu menelponku di jam dini hari dan mengatakan kau dalam keadaan yang buruk. Menyuruhku dengan gaya tuan putrinya dan kalau sempat, dia memintaku untuk membuat sedikit keonaran. Jadi haruskah aku melakukannya?.” Kata namja itu yang menggunakan piyamanya dan jaket tebal untuk melindungi tubuhnya dari dinginnya udara dini hari.

“Oppa” Hyunmie sedikit tersenyum kemudian tertawa untuk satu atau dua detik mendengar perkataan namja yang memiliki senyum manis itu. Terlebih penampilan namja itu yang membuat Hyunmie gemas.

“Jah kajja!” namja itu meraih tangan Hyunmie menuju mobilnya, membukakan pintu dan membantunya untuk masuk ke dalam mobil. Tangannya berada di kepala Hyunmie, berjaga-jaga jika kepala gadis mungil kesayangannya terantuk. Setelah Hyunmie masuk ke dalam mobil, ia memasukkan tas kecil itu ke kursi belakang dan dengan tergesa ia masuk menyusul masuk di mobil.

“Oppa.” Hyunmie memandang namja yang masih memasang senyum manisnya itu. “Bagaimana kau tahu kalau aku…” akhirnya Hyunmie mulai membuka pembicaraan selang mobil namja itu melaju di jalan yang penuh dengan lampu yang indah.

“Kau meragukan kemampuanku?”

“Tapi kita…?

“Sudah waktunya Hyunmie-ya, appa dan aku sudah hampir memiliki semua datanya. Kau, oppamu, dan adikmupun sudah memiliki kemampuan untuk memperjuangkan hak kalian.”

“Oppa, gomapta.”

“’Tak sebanding dengan apa yang orang tuamu dan keluargamu lakukan untuk keluargaku Hyunmie-ya.”

“Oppa…”

“Kalau menangis menangislah jangan kau tahan.”

“Sebenarnya aku ingin menangis tapi entah kenapa kalau aku melihat wajah oppa aku tidak bisa menangis.”

“Yah itulah sifatmu sejak kecil. Tidak bisa menangis jika melihatku.”

“Dasar ikan amis, kenapa sekarang kau narsis sekali.” Kini Hyunmie mengembungkan pipinya dan melupakan kesedihannya dan lima detik kemudian dia tertawa bersama dengan namja yang ia panggil sebagai ikan amis itu. Ya, Hyunmie bisa tertawa melupakan bagaimana sakitnya  dia beberapa waktu lalu, bagaimana sulitnya ia melangkahkan kakinya meninggalkan nama yang telah ia anggap ebagai oksigennya itu.

Kyuhyun P.O.V

Aku masih terjaga di jam lewat tengah malam, aku menonton TV yang tidak menarik untukku. Biasanya, saat seperti ini gadis itu akan datang dengan segelas susu cokelat hangat dan cookies cokelat untukku dan setelah menghabiskannya aku baru bisa tidur. Aku pindah-pindahkan chanel TV itu dan aku mendengar sebuah langkah kaki yang aku kenal.

Ketika aku menoleh, aku melihat gadis yang setahun ini menjadi tunanganku ini. Ah, tapi kini telah menjadi mantan tunanganku beberapa saat yang lalu. “Neo!” panggilku dan itu sukses menghentikan langkahnya. “Mau kemana kau?” tanyaku saat mataku menangkap tas pakaian kecil yang dulu ia gunakan untuk membawa pakaiannya ke mari.

“Mewujudkan keinginan terbesarmu tentu saja” jawabnya sambil memutar badan mungilnya menghadapku yang masih enggan beranjak dari sofa mewahku ini. Aku memikirkan perkataannya, aku ‘tak mengerti apa yang ia katakan. “Mendepakku. Dari. Hidupmu. Secepatnya.” Katanya menjelaskan ketidak mengertianku dengan cara mengeja kata perkata dari kalimatnya.

“Apa kau begitu menyukaiku nona Park sehingga kau ingin sekali segera mewujudkan keinginan terbesarku?” kataku yang kini telah beranjak dari sofa dan berdiri di depan gadis mungil yang tingginya ‘tak lebih dari dadaku.

“Bukankah kau ‘tak suka menunda keinginanmu Cho Kyuhyun-ssi” katanya ‘tak menjawab pertanyaanku, jujur sedikit aneh di telingaku ketika ia memanggilku dengan nama lengkap dan begitu formal. “Kau ‘tak usah khawatirkan aku…” ia menggatungkan kalimatnya. “Ah… khawatir padaku bukanlah gayamu. Iyakan Cho Kyuhyun-ssi? Seharusnya aku mengatakan Jangan khawatirkan hartamu. Tenang saja, aku tidak membawa sepeser hartamu, aku ‘tak pernah menyentuh mereka” Katanya. Tentu saja aku tahu, mana mungkin ia membawa hartaku dengan tas yang begitu kecil itu?

“Tentu saja, ketika aku tahu kau menyentuh atau membawanya pergi. Akan ku kejar kau meski sampai neraka.”

“Well, selamat tinggal Cho Kyuhyun-ssi, semoga kita tidak berjumpa lagi.” Katanya sambil meninggalkan appartement.

Setelah gadis itu menutup pintu appartement dan terdengar pintu besar itu mengunci secara otomatis, aku merasakan keheningan yang begitu mencekam di appartement ini, bahkan suara jam yang berdetak terdengar jelas sekarang. Entah kenapa, aku masih terpaku pada tempatku, hatiku merasa begitu aneh, begitu tidak nyaman, kenapa? Bukankah seharus aku senang. Senang kerena telah mendepak wanita menjijikkan itu? Wanita menjijikkan yang menjadi benalu dalam hidupku.

Entah, bagian otak mana yang memerintahkan kakiku, sekarang kakiku bergerak begitu cepat menuju lift. Namun sial, lift itu sudah tertutup dan menuju ke lantai lobi dengan begitu cepat. Dan entah bagian otak mana lagi yang memerintahkan kakiku saat ini, kakiku ini sudah menuju ke tangga darurat, dan sekarang dengan kecepatan yang tak pernah ku ketahui aku mampu melakukannya, menuruni anak tangga dari lantai 15 menuju lantai satu.

Tak sampai sepuluh menit kini aku sudah berada di lobi, ini sungguh luar biasa, mungkin jika aku masih senior high school kini aku sudah ikut kejuaraan. Tapi, ketika aku mlihat ke arah lift, pintu itu sudah tertutup dan tak ada seorangpun. Aku segera menuju ke depan gedung appartement. Namun, sial nafas ku terasa sesak, aku berhenti ketika aku sudah melihat punggungnya yang sedikit terguncang karena menangis, menangis? Iya, dia menangis, sangat berbeda ketika ia menatapku sinis beberapa waktu lalu. Punggung mungilnya terlihat begitu rapuh dan siap hancur kapan saja.

Ku langkahkan kakiku, ketika aku merasa lebih baik. Namun, langkah itu terhenti lagi ketika aku melihat ada seorang namja yang menghampirinya, ia tersenyum pada gadis mungil yang kini terlihat begitu rapuh. Ku lihat namja itu mengucapkan sederetan kata dan itu sanggup membuat punggung gadis itu terguncang namun bukan karena menangis melainkan karena tertawa. Aku merasakan sedikit nyeri di dadaku. Dia tertawa karena namja lain, dia tertawa setelah menangis, menangis karena aku.

Sibuk berkutat dengan pikiranku, aku baru sadar ketika namja yang mengenakan piyama dan juga jaket itu, namja yang ‘tak lebih tampan dan tinggi dariku itu meraih tasnya dan menggenggam tangan gadis itu dan menuntunnya ke dalam mobilnya. Aku melangkahkan kakiku, dan semakin ku perlebar dan bahkan sekarang aku berlari namun, mobil itu telah melaju begitu saja. “Sial!” umpatku. Entah aku mengumpat pada diriku sendiri atau karena namja sialan itu membawa gadis itu. “Siapa namja itu?” tanyaku. “Kemana mereka akan pergi?” “Kenapa gadis itu menurut begitu saja pada namja itu?” “Apakah mereka akan tinggal bersama?” sederetan pertanyaan melintas di benakku begitu saja.

Kenapa? Pertanyaan itu muncul? Pertanyaan yang seolah-olah menggambarkan betapa menyesalnya diriku. Betapa sakitnya diriku betapa hampanya diriku. Tidak, aku tidak merasa seperti itu. Dan aku tidak akan merasakan hal itu.

TBC

Eotteo? Apa kalian menyukainya? Kuharap kalian menyukainya dan memberikan respon walaupun hanya sedikit.

Terimakasih😀

YJK Speak: hiks…. sedih bangetkan

Tinggalkan komentar

4 Komentar

  1. chobyul

     /  Oktober 18, 2015

    ada ff baru…absen dulu ya,,

    Balas
  2. huaaa bagus baguss love it so much…. aku tunggu kelanjutannya kak… fighting nulisnya🙂

    Balas
  3. chobyul

     /  Oktober 18, 2015

    baguss…memang sbaikny hyunmie pergi,, biar kyuhyun nyesel. dtunggu next..

    Balas
  4. Mitarashi8899

     /  Oktober 21, 2015

    Aku sukaaaaa… Kyu nya munafik ni selain itu main nuduh org tanpa cari bukti dl… Baru nyeselkan hyunmie nya pergi… Next chap nya asap pls eheheh

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: