FF//MRS KISS// part 5

10463_465547810142609_315593753_n
Autor:YJK

Tittel: MRS KISS

Cast: Super junior, Park Hyunmie

Gender: Romantic, Friendship, Family

Rating: 17+

Leght: Chapter

masih banyak unsur typo dan alur yang gitu-gitu aja tapi berharap tidak membosankan.

Story begin

HYUNMIE POV

Setelah merasa tenang aku lalu keluar dari toilet, aku terkejut ketika ada orang yang tepat berdiri di hadapanku.

“Ommo, aiss tuan kau membuatku terkejut.” Orang di hadapanku ini hanya tersenyum tiga jari, senyum kaku yang sangat ku kenal.

“Ah mianahe, hmm apa kau chingu Zhoumi?” binggo ternyata tebakanku benar.

“Ne, tuan hyung dari Zhoumikan? Hangeng oppa?” tanyaku pelan, karena namja di hadapanku ini melihat adeganku tadi, oh memalukan.

“Sepertinya Zhoumi sudah bercerita.” Aku hanya mengangguk kecil ketika wajah itu tidak terlalu banyak bereaksi, astaga apa keluarga Zhoumi selalu seperti ini jika menyambut orang baru? Khususnya wanita?

“Ne, ah annyeong haseyo Kim Hyunmie imnida.” Ucapku sambil membungkuk 90 derajat, dan dia kembali membalasku dengan tersenyum kecil.

“Ne bangapta Hyunmie-sshi.”

“Ah panggil aku Hyunmie saja oppa.” Ucapku tidak enak.

“Ah ne Hyunmie. Oh iya kenapa kau tadi mencium Siwon?” aku mengerutkan kening binggung tapi kemudian membulatkan mata salah tingkah, sepertinya ini yang tadi.

“Ye? ah maksudnya agasi tadi? hmmm molla aku ingin saja.” Ucapku pelan, sedikit merasa bersalah.

“Kau menyukainya?” tubuhku membeku sempurna, apa ia aku menyukainya? Tapi mustahil. Baru saja aku akan menjawab, Zhoumi sudah mendekat kearahku lalu memelukku dari belakang, ku tatap Hanggeng oppa yang mengerutkan keningnya binggung.

‎ “Siapa yang menyukai siapa?” tanya Zhoumi tepat di telingaku, membuat seluruh bulu romaku berdiri, dengan gagap aku melepas rangkulan Zhoumi.

“Anniya, hmmm Hanggeng oppa aku kembali ke perpustakaan dulu.” Ucapku pelan bermaksud izin untuk cepat pergi, sebelum Hanggeng oppa bertanya lebih banyak, dan sepertinya namja kaku ini tidak mempermasalahkannya.

“Ah ne.Zhoumi aku ingin bicara dulu denganmu sebentar.” Sepertinya Hanggeng oppa berniat menanyakannya pada Zhoumi, aku baru saja ingin membisikan kata-kata pada Zhoumi agar tidak mengatakan apapun pada Hanggeng oppa tapi sepertinya Zhoumi tidak mau memperdulikan tandaku dan mengusirku begitu saja.

“Ne araseo, Hyunmie kau duluan saja ne.” Aku hanya menghelah nafas lemas lalu mengangguk pelan.

“Ne.” aku lalu melangkah kembali menuju perpustakaan dan kalian tahu ke 4 chinguku sedang asyik tidur, tak terkecuali Henry. Aku bisa memaklumi jika Henry tertidur, itu pasti karena dia kelelahan yang tidak bisa aku terima Eunhyuk,Donghae dan Shindong sejak tadikan tidak kerja sama sekali dan itu sangat menyebalkan.

Aku lalu melangkah mendekati ketiganya dan menendang-nendang pelan kaki Eunhyuk, hanya erangan kecil yang terdengar
.
“YaK, Hyukie ironayo. Kau belum mengerjakan apapun!! Untuk apa kau tidur?” dan kalian tahu apa jawaban monyet menyebalkan ini?

“Bawel.” Dengan geram kembali ku tendang kaki monyet menyebalkan ini kali ini aku tidak akan memberinya ampun. Tapi dasar benar-benar tukang tidur, Eunhyuk hanya berguling lalu kembali melanjutkan tidurnya.

“Yaaak.”

Aku lalu duduk di samping sofa tempat Donghae tidur, aigo ini perpustakaan atau tempat santai bagi mereka? aku lalu menggoyang-goyangkan tubuh Donghae, aku memang sedikit lembut pada chinguku yang satu ini, dia sedikit berbeda dengan Eunhyuk.

“Hae… ironayo, kau mau kerja kelompok atau tidur.” Ucapku pelan dan hanya gumaman kecil yang terdengar dari pangeran mokpoku ini.

“5 menit saja, aku lelah di sekolah tadi latihan dancer.” Aku tahu namja ini berbohong, cukup tahu jadwal latihan Donghae, sedikit sebal ku layangkan satu pukulan di punggungnya, membuatnya tersentak kaget.

“Andwe palli ironayo.” Donghae lalu bangun dengan mata tertutup, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku tak percaya.

“Buka matamu Donghae_ah.” bukanya membuka mata, Donghae malah merangkul pingangku dan menciumku membuatku membeku seketika, pasalnya selama ini diantara Chinguku tidak ada yang menciumku jika aku tidak meminta dan tanpa aba-aba Donghae menjilat bibir bawahku beberapa kali, lalu menatapku dengan tatapan seduktiv tak jauh dari bibirku.

“Bibirmu makin manis, seperti jelli Hyunmie, mau coba bermain lidah.” Seolah sadar dari keterkejutanku kulayangkan pukulan telak di kepalnya untuk keberaniannya bermain-main dengan ciuman dan lidahnya.

PLTAKK

“Yaaaak sejak kapan kau berpikiran mesum seperti itu eoh? Apa yang couplemu ajarkan sehingga berani mengatakan hal menjijikan seperti itu.” Tapi Donghae malah sibuk merintih kesakitan sambil mengelus cepat kepalanya yang ku pukul kuat-kuat tadi.

“Ahhh appo, kau ini kenapa suka sekali memukul kepala orang.”
Kegaduhan aku dan Donghae mau tak mau membangunkan yang lainnya, Hedry nampak menguap kelelahan, sedang Sindong dan Eunhyuk sibuk memegangi kepala khas orang bangun dari tidur panjannya, sementara Donghae masih sibuk mengelus kepalannya yang ku pukul kuat-kuat tadi. Terbersit rasa bersalah di hatiku, melihat Donghae yang masih mengelus kepalanya yang kesakitan, tapi itu memang pantas untuknyakan.

“Waeyo Hyunmie_ah? kenapa kau berisik sekali.” Sekali lagi lontaran protes keluar dari mulut tuan monyet di hadapanku, membuatku mau tak mau menggeram sebal, mereka sudah tak bisa di selamatkan lagi.

“Yaak, jika kalian terus seperti_” ucapanku lagi-lagi di potong oleh si monyet Eunhyuk.

“Mwo?”

“Tsk, kau suka sekali menyela tuan monyet. Dengar jika kalian bertiga tidak mau membantu tugas dari Park seongsangnim, jangan harap kalian masuk daftar kerja kelompok.” Aku menatap Shindong, Eunhyuk dan Donghae dengan amarah yang meluap-luap sementara Henry hanya terkikik geli, iya hal seperti ini sudah biasa. Dan reaksi ketiga sahabatku juga seperti biasa, kalang kabut karena aku memang tidak pernah main-main dengan kata-kataku.

“Mwo? Jebal Hyunmie… beri kami kesempatan.” Bujuk Shindong padaku.

“Tak ada. Henry aku pulang, aku sudah mengerjakan lima halaman dari makalah yang ada, sisanya bisakah kau yang kerjakan?” Aku berusaha tak peduli dengan bujukan ketiga sahabatku, dan seperti ingin melancarkan usahaku Henrypun membantuku.

“Ah geure, akan aku kerjakan sisannya nanti malam, lagipula aku sudah lelah mengerjakan 6 halaman.” Henry mengedipkan matanya padaku, aku hanya sanggup tertawa dalam hati. Rasakan pembalasanku.

“Ya, ya, ya bagaimana nasib kami bertiga? Apa ini yang kalian sebut teman?” sekali lagi aku mendelik kesal, ke arah Donghae yang langsung menundukan kepalanya.

“Aku tidak peduli, dengan teman yang tak mau membantuku, Henry tolong katakan pada Zhoumi, mian aku pulang lebih dulu.” Henry mengangguk senang lalu mulai merapihkan tugas yang sudah aku susun tadi bersama Zhoumi dan Henry, ketika sahabatku benar-benar kalang kabut ketika melihatku benar-benar melangkah keluar dari kamar Zhoumi, mereka akhirnya membuat langkahku terhenti dengan menahan langkahku menatapku dengan tatapan tajam, tapi detik selanjutnya mereka berlutut dan memohon dengan mata berbinar padaku, cih gaya andalan mereka jika membuatku marah.

“Jebal, kami akan lakukan apapun asal masuk kelompokmu Hyunmie_ah, kau tahukan si botak itu bisa mencincang kita bertiga jika tidak mengerjakan tugasnya.” Kali ini Eunhyuk buka suara, padahal sejak tadi dia yang begitu menyebalkan.

“Tsk, aku tidak peduli urus saja sendiri.” Ketika aku benar-benar akan keluar, Donghae berdiri, menatapku dengan tatapan oky yang membuatku tidak bisa menolakanya, aku menghembusakan nafasku lemas, pikiran jahilku datang begitu saja setidaknya ketiga sahabatku ini harus menerima hukuman atas kemalasan mereka. Aku berbalik menatap Henry, sahabatku itu menggeleng ketika sebuah senyuman jahat aku munculkan.
“Baiklah, kuberi kalian satu kesempatan lagi, tapi kalian tetap harus turut andil dalam kerja kelompok ini. Bukan sesuatu yang sulit, besok akan aku jelaskan apa yang harus kalian kerjakan.” Setelah mengucapakan kata-kata itu kulangkahkan kakiku keluar dari rumah besar Zhoumi.

***

Seperti biasa Hyunmie dan kelima sahabatnya itu masuk kekelas, Donghae,Eunhyuk dan Shindong masih belum di beritahukan apa yang harus ketiganya lakukan untuk masuk ke kelompok mereka, ketika Eunhyuk bertanya pada Henry dan Zhoumi keduanya juga tidak tahu apa yang akan Hyunmie perintahkan pada mereka, padahal pelajaran Kim seongsangnim adalah hari ini. Dengan was-was Donghae bertanya pada Hyunmie.

“Yak, Hyunmie_ah? Sebenarnya apa yang harus kita bertiga lakukan? Bukan sesuatu yang berbahayakan?” Hyunmie menoyor kening sahabatnya itu sebal, ketika Donghae berpikiran negatif padanya.

“Diamlah, kalian akan tahu nanti di jam istirahat, aku tidak sekejam yang kalian kira.” Sia-sia bertanya Donghae mengangkat bahunya pasrah, Eunhyuk dan Shindong juga hanya saling berpandangan, entah kenapa mereka punya firasat buruk tentang tugas yang akan Hyunmie berikan padanya.

Dan sepertinya tebakan mereka terbukti, dengan sadisnya Hyunmie menyuruh ketiganya mencari setidaknya enam ekor katak di kolam taman belakang sekolah mereka, gadis berperawakan mungil itu tidak mau menerima penolakan dari ketiganya, bahkan protes keras ketiganya hanya dianggap angin lalu. Dengan tenang Hyunmie naik ke atap sekolah, bermaksud melihat usaha ketiga sahabatnya mencari katak dari jauh. Henry dan Zhoumi hanya bisa tertawa keras ketika sesekali melihat Eunhyuk yang gagal menangkap katak yang sudah ada di depan mata.

“Yak apa kau tidak terlalu kejam pada mereka? Padahal kemarin kita bisa saja membelinya di pasar tradisonal? Jauh lebih praktiskan?” kali ini Zhoumi berusaha menahan tawanya dengan mengajak bicara Hyunmie yang sibuk dengan ponselnya, juga sesekali menatap Donghae yang sudah mengeluh karena sulitnya mendapatkan katak. Hyunmie tersenyum evil, sebenarnya apa yang di katakan Zhoumi memang benar, tapi sekali lagi Hyunmie memang sangat ingin mengerjai ketiga sahabatnya yang pemalas itu.

“Biarkan saja, biar mereka berpikir, tidak mudah mengerjakan tugas yang Kim seongsangnim berikan. Sesekali mengerjai mereka tak apakan?” sekali lagi Zhoumi menutup mulutnya agar tidak tertawa, tapi tawa Henry memancing tawanya kembali. Ketika Henry melihat Donghae marah-marah karena ada katak yang lepas ketika ia berhasil menangkapnya.

“Sampai kapan mereka harus disana Hyunmie_ah? Sebentar lagikan bel berbunyi? Aku juga tidak yakin mereka mendapatkan enam ekor katak yang kita butuhkan.” Kali ini Henry angkat bicara, ketika ia menatap arlojinya jam istirahat hampir habis.

“Kau tidak usah khawatir aku sudah membeli tiga ekor jika ketiga sahabat kita yang tersayang itu tidak bisa mendapatkannya.” Zhoumi dan Henry hanya terkikik geli karena kejahilan sahabat wanita mereka satu-satunya itu. Hyunmie melangkahkan kakinya menuju taman belakang ketika dirasanya cukup menjahili sahabatnya itu, Zhoumi dan Henrypun menyusul.
Ketika hampir mendekati kolam, Zhoumi menahan langkah Hyunmie membuat Hyunmie mengerutkan keningnya bertanya, Henry yang merasa sahabatnya berhenti berjalan menoleh ke arah Hyunmie dan Zhoumi.

“Ada apa?” tanya Henry ketika Zhoumi menggenggam pergelangan tangan Hyunmie.

“Henry_ah, bisakah kau pergi lebih dulu? Ada yang harus aku bicarakan dengan Hyunmie.” Henry mengerutkan keningnya curinga, sedang Hyunmie hanya mengangkat bahunya ketika Henry menatapnya dengan tatapan bertanya.

“Kau mau merahasikan sesuatu dari kami semua Zhoumi_ah?” tanya Henry penuh selidik, tapi dengan cepat Zhoumi menggeleng cepat.

“Aniyo… bukan begitu, hanya saja aku malu saja jika kalian tahu, ini sangat privasi. Tolonglah.” Henry menghembuskan nafasnya pasrah lalu melangkah pergi menuju kolam meninggalkan Hyunmie dan Zhoumi berdua.

“Ada apa Mimi_ah?” Zhoumi meringis ketika mendengar nama panggilan untuknya di sebut.

“Bisakah Zhoumi saja? Rasanya aneh kalau kau yang sebut.” Hyunmie memiringkan kepalanya binggung. Kenapa memang?

“Baiklah, ada apa? Kenapa harus berdua saja?” tanya Hyunmie tak sabar.

“Begini, kau masih ingat dengan namja yang kemarin bertemu denganmukan di rumahku?” sesaat wajah Hyunmie memerah, ia kembali mengingat pertemuannya dengan seorang namja yang dengan tidak sopannya ia cium di pertemuan pertamanya. Zhoumi menatap Hyunmie heran kenapa dengan sahabatnya itu.

“Kau tidak apa-apa? Kenapa tiba-tiba wajahmu memerah?” pertanyaan Zhoumi membuat wajah Hyunmie semakin merah dan salah tingkah.

“A…anniyo, gwenchanayo. Memangnya ada apa?” tanya Hyunmie berusaha menghindari pertanyaan yang mungkin akan membuat Hyunmie semakin pusing untuk menjawabnya.

“Kau tahukan aku dan Hyungku punya masalah dengan wanita? Aku sendiri sudah sembuh semenjak bersahabat denganmu, aku ingin kau membantu Hyungku juga.” Hyunmie mengerutkan keningnya tapi detik selanjutnya menarik nafas lega.

“Maksudmu Hangeng oppa?” Zhoumi mengangguk cepat, membuat Hyunmie kembali mengerutkan keningnya binggung.

“Begini, hyungku penasaran kenapa aku bisa bersahabat denganmu dengan shindromku yang sangat takut pada wanita, aku bilang aku sendiri binggung kenapa shindromku sembuh saat bersamamu, hyungku juga terkejut ketika aku bilang aku sering mendapat ciuman darimu tanpa risih atau takut sama sekali.” Hyunmie mulai binggung dengan ucapan yang Zhoumi katakan.

“Ayolah intinya saja, jangan membuatku binggung.” Geram Hyunmie kesal, memuat Zhoumi menggaruk tengkuknya binggung.
“Begini hyungku ingin kau menolongnya untuk menghilangkan masalahnya yang tidak terlalu nyaman jika di dekat wanita. Setelah melihatku Hangeng hyung yakin kau bisa menyembuhkannya.” Hyunmie menarik sebelah alisnya heran, dia sendiri baru tahu jika Zhoumi benar-benar sembuh dari shindromnya karena dia.

“Tapi, mungkin saja untuk kasusmu itu hanya kebetulan Zhoumi_ah.” Zhoumi menggeleng tidak setuju, dia yakin dengan pemikirannya jika Hyunmie memang yeoja yang unik.

“Ayolah kau bisa mencobanya dulu, jebal tolonglah hyungku. Jika terus begitu bisa-bisa hyungku tidak akan pernah punya kekasih karena membenci semua wanita.” Kali ini Zhoumi mengeluarkan ayegonya demi membuju sahabatnya itu.

“Tapi akukan bukan pisikolog Zhoumi_ah.” Desah Hyunmie lemas, tapi sepertinya Zhoumi tidak mau menyerah.

“Aku tahu, jika pisikolog hyungku juga sudah sering mendatanginya. Kau hanya perlu jalan-jalan saja dengan hyungku Hyunmie_ah.” Hyunmie kembali mendesah, sepertinya percuma menolak keinginan namja di hadapannya.

“Baiklah akan aku pikirkan, tapi aku belum bisa menjanjikannya kapan.” Wajah namja tinggi di hadapan Hyunmie kembali cerah, dengan cepat Zhoumi mencium Hyunmie cepat, membuat Hyunmie tertegun tapi kemudian menggeleng pelan. Tanpa keduanya sadari keempat sahabatnya yang baru saja keluar dari kolam katak melihat adegan ciuman kilat itu.

“Yak, Zhoumi_ah apa yang kau lakukan? Kau belum lama menjadi sahabat kami, tapi sudah mendapatkan jatah ciuman, sedangkan kami terpaksa mencari katak seperti ini.” Donghae melotot kearah Zhoumi membuat namja tinggi itu tersenyum salah tingkah, sementara Hyunmie nampak berpikir, sepertinya hari ini dia melupakan kebiasaannya mencium sahabatnya.

“Mianhae…” gumam Zhoumi merasa bersalah. Membuat Eunhyuk yang sudah siap menjitak kepala Zhoumi hanya menggeleng pasrah, sekalipun tinggi Zhoumi terlalu imut untuk di kasari. Dan hari ini di akhiri dengan ciuman kilat Hyunmie, membuat kelima namja itu kembali terkena serangan jantung. Benar-benar tiada hari tanpa ciuman dari mrs kiss.

***

Sepulang sekolah Hyunmie tidak biasanya langsung pulang kerumahnya, dia tidak ikut ketika kelima sahabatnya mengajaknya pergi ke game center, tempat dimana biasanya mereka menghabiskan waktu setidaknya satu jam bersama. Ada hal lain yang harus ia lakukan, dan sahabatnya tidak boleh tahu. Keadaan rumah sangat sepi membuat Hyunmie sedikit heran. Tapi gadis itu tidak terlalu memikirkannya malah bagus dia bisa melakukan apa yang ingin ia lakukan agar tidak di ketahui oleh keluarga Kim. Tapi baru saja masuk kamarnya Hyunmie mendapati seorang namja tertidur di ranjangnya. Namja itu begitu imut berbaring di ranjangnya, berkulit putih bersih dan juga tampan tentunya, Hyunmie duduk di samping ranjangnya, memperhatikan namja tampan yang masih terlelap di ranjangnya.

“Nuguya? Jinjja tampan sekali. Keunde sepertinya aku pernah bertemu dengannya!! Tapi dimana iya?” Hyunmie nampak berpikir, tapi ia kembali menatap namja itu dengan senyuman usilnya.
Perlahan Hyunmie menyentuh wajah namja yang masih tertidur di ranjangnya, seperti tidak terganggu dengan kegiatan kecil jari-jari Hyunmie di wajahnya. Sesaat Hyunmie terdiam ketika jarinya berhenti tepat di bibir namja imut itu.

“Bibirnya merah sekali…” gumam Hyunmie pelan. Dan entah keberanian dari mana Hyunmie mendekatkan wajahnya pada namja yang kini masih belum terusik dengan gerakan Hyunmie. Sebuah kecupan manis Hyunmie berikan untuk namja yang kini masih tertidur di ranjangnya, tidak ada respon membuat Hyunmie tersenyum usil

“Salahmu sendiri tuan tidur di kamarku.” Perlahan Hyunmie menjilat bibir namja yang masih belum bangun itu dan mengigitnya kecil, dan gerakan itu membuat sang namja terbangun dan shock ketika seorang yeoja tengah tersenyum usil padanya.

“Nuguya? Kenapa kau ada di kamarku? Apa kau malaikat yang tersesat di kamarku?” pertanyaan Hyunmie sama sekali tidak di jawab namja yang kini masih ada dalam kungkungannya. Namja ini hanya sibuk menatap wajah Hyunmie, seperti mengenal siapa gadis yang kini masih menatap bibirnya gemas.

“Waeyo? Apa aku secantik itu sampai kau tidak bisa bicara?” lagi-lagi pertanyaan Hyunmie tidak di jawab, mata Hyunmie menyipit dengan perlahan Hyunmie meletakan telinga kirinya tepat di dada namja yang sepertinya terkejut dengan gerakan Hyunmie. Hyunmie kembali tersenyum usil ketika detak jantung namja imut di hadapannya cukup keras terdengar.

“Bolehkah aku menciummu lagi? Bibirmu rasanya manis. Tadi aku sempat menjilatnya saat kau tidur.” Mata namja itu membulat sempurna membuat Hyunmie tersenyum geli, benar-benar imut. Tapi keusilannya terganggu ketika Yesung masuk kekamarnya.

“Yak, berhenti mengodanya saengie.” Dengan cepat Yesung menarik Hyunmie yang masih menghimpit tubuh namja imut itu, Hyunmie mendengus sebal. Jelas-jelas bukan salahnya.

“Tsk, siapa yang mengodanya, dia saja yang masuk kekamarku dan tidur di ranjangku. Exspresi menggemaskannya yang mengundang ke usialanku oppa.” Ucapan Hyunmie membuat namja imut itu turun dari ranjang dan berdiri di sebelah Yesung.

“Mi…mianhae, aku tidak tahu ini kamarmu. Aku kira ini kamar Yesung_ssi.” Gugup namja imut itu salah tingkah.

“Tadikan aku sudah bilang ini kamarku.” Hyunmie mempoutkan bibirnya sebal, karena oppanya Yesung masih menatapnya menyalahkan.

“Aku yang salah Yesung_ssi jangan marahi dia.” Bisik namja imut itu pada Yesung membuat Yesung mengalihkan tatapannya pada Hyunmie.

“Mianhae tadinya aku pikir ini kamar Yesung_ssi, mungkin karena kelelahan aku tidak sempat mengecek ini kamar siapa.” Kali ini Hyunmie mengangguk memaklumi, walaupun masih kesal setidaknya dia sudah mendapat bonusnya tadi.

“Aku pikir kau tadi tidak jadi tidur siang dan memilih keluar karena kau tidak ada di kamarku, yasudah kau pindah kekamarku sekarang di sebelah.” Kali ini namja itu mengangguk patuh, sebelum keluar namja itu nampak membungkukan tubuhnya untuk minta maaf pada Hyunmie.

“Sekali lagi maafkan aku Hyunmie_ssi karena sudah menggunakan kamarmu sembarangan.”

“Gwenchanayo, panggil aku Hyunmie saja.” Ucap Hyunmie acuh. Namja itu kembali mengangguk lalu melangkah keluar kamar. Saat Yesung hendak keluar menyusul namja imut tadi Hyunmie menarik tangan oppa pertamanya itu.

“Waeyo?”

“Nuguya?” tanya Hyunmie teruntuk menanyakan siapa namja imut tadi, Yesung mengangkat alisnya heran.

“Kau lupa? Diakan namja yang pertama kau cium.” Ucapan Yesung sukses membuat Hyunmie membulatkan matanya, pantas dia merasa tidak asing dengan namja tadi.

“Su… Sungmin oppa?” Yesung mengangguk kecil tapi setelah itu menjitak kepala saengnya itu pelan.

“Kau lupa padanya tapi berani menggodanya? Setelah sekian lama? Tsk, keterlaluan kau saengie.” Kali ini Hyunmie tidak terima, kenapa dia di salahkan, padahal oppanya tahu jika dia punya shindrom yang aneh.

“Mwo!! Waeyo?” Yesung kembali berdecak tidak percaya.

“Kau membuatnya tidak mau berciuman dengan wanita manapun.” Mata Hyunmie kini membulat sempurna.

“EEEE?” WAEYO?” Yesung melongo tidak habis pikir, teganya Hyunmie melupakan semuanya.

“Kau lupa? Yak, dulu kau kan mengigit bibirnya hingga berdarah.” Hyunmie nampak tersenyum salah tingkah, wajahnya memerah karena malu. Lalu mulai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Jadi hingga sekarang Sungmin oppa tidak punya pacar?” sekali lagi Yesung menjitak kepala saengnya gemas.

“Jangan terlalu percaya diri. Dia memang pernah berpacaran, tapi semuanya kandas karena dia tidak pernah mau berciuman.” Sekali lagi Hyunmie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tapi seperti mengingat sesuatu Hyunmie kembali menahan Yesung yang hendak keluar kamarnya.

“Oppa chakkaman, bukankah Sungmin oppa sedang ada di Jepang menjadi asisten seorang Jaksa?”

“Jaksa itu di pindah tugaskan ke Korea, itu sebabnya Sungmin ada di sini, Jaksa itu juga satu kantor dengan oppa.” Hyunmie membentuk mulutnya menjadi huruf ‘O’ tanda iya memahami kata oppanya Yesung.

“Jika Sungmin oppa ada di sini, dia berarti akan tinggal disini begitu?” tanya Hyunmie berbinar membuat Yesung menggelengkan kepalanya, dia paham apa isi kepala saengnya itu.

“Anni, dia hanya menumpang untuk beberapa hari saja mungkin, Sungmin sedang mencari apartemen untuknya dan Jaksa itu.” Wajah Hyunmie nampak kecewa, objek kissingnya tidak jadi bertambah.

“Oh iya, tidak biasanya kau pulang cepat? Biasanya kau pulang larut malam?” untuk sesaat Hyunmie binggung mencari alasan tapi setelah itu Hyunmie tersenyum kecil.

“Aku lelah oppa, ingin tidur.” Ucap Hyunmie sambil mendorong Yesung keluar kamar, tidak memperdulikan protes Yesung yang sejak tadi Hyunmie tahan kepergiannya, sekarang malah di usir begitu saja.

Hyunmie lalu mengunci pintu kamarnya, bergegas menukar pakaiannya dengan pakaian yang biasa ia gunakan untuk berpergian bersama oppadeulnya. Setelah semuanya di kira cukup, Hyunmie mulai menurunkan tangga daruratnya yang sering ia pakai untuk keluar rumah agar tidak di ketahui keluarga Kim. Sebenarnya Hyunmie bisa saja bilang pada oppanya jika ia ingin keluar rumah, tapi orang yang ingin Hyunmie temui bukanlah orang yang akan keluarga Kim izinkan untuk di temui. Padahal orang yang akan Hyunmie temui adalah orang yang sama pentingnya seperti keluarga Kim bagi Hyunmie.

Taman tempat Hyunmie berjanji bersama orang penting itu terlihat sepi, Hyunmie memang sengaja memilih tempat ini agar tidak di ketahui banyak orang. Beberapa kali Hyunmie melirik jam di tangannya gelisah, dia tidak punya banyak waktu, jika terlalu lama keluarga Kim pasti akan curiga. Tapi detik selanjutnya wajah Hyunmie kembali tersenyum berseri-seri, ia berlari kearah seorang namja yang lebih tua dari Yesung. Namja itu tersenyum senang melihat Hyunmie berlari kearahnya dan tanpa basa basi memeluk Hyunmie erat-erat.

“Oppa… bogoshhipo.” Gumam Hyunmie di dekapan namja itu.

“Nado saengi…” Hyunmie tersenyum senang lalu melepas pelukannya dari sang namja bermarga Park itu.

“Leeteuk oppa, sudah lama tidak bertemu kau semakin tampan saja.” Ucap Hyunmie penuh semangat, Leeteuk tersenyum lalu mengelus rambut Hyunmie sayang.

“Kau juga semakin cantik saengi, ah kajja appa sudah menunggu kita.” Hyunmie nampak terkejut senang, pasalnya appanya yang satu itu sangat sibuk, tidak jauh sibuk dari Heechul appanya.

“Jadi apa datang juga ke Korea?”

“Tentu saja, dia merindukan putri kesayangannya.” Hyunmie mempoutkan bibirnya membuat Leeteuk mengerutkan keningnya binggung.

“Oppa tidak merindukanku?” Leeteuk tersenyum kecil, sepertinya dia melupakan sesuatu. Perlahan Leeteuk mencium bibir Hyunmie sekilas.

“Tentu saja oppa merindukanmu, kita hanya bisa bertemu dua bulan sekalikan? Mana mungkin tidak rindu.” Hyunmie kembali tersenyum kecil lalu kembali memeluk oppanya itu sayang. Membingungkan bukan? Hyunmie memang satu appa dan satu eomma dengan Leeteuk, sedangkan oppanya di keluarga Kim hanya satu ibu saja. Eomma Hyunmie menikah tiga kali, Petama dengan tuan Park kedua dengan Kim Heechul, ketika menikah denga Tuan Park eomma Hyunmie Park Hyun ji memiliki seorang anak bernama Park Jung soo atau Hyunmie memanggilnya Leeteuk. Karena tertekan dengan pekerjaan tuan Park mereka bercerai dan Hyun ji menikah dengan Heechul, dari pernikahan itu mereka di karuniai empat orang anak laki-laki. Yesung, Kangin, Kibum dan Ryeowook. Tapi karena Hyunji masih mencintai Tuan Park akhirnya Hyunji kembali bercerai dan menikah lagi dengan tuan Park saat itulah Hyunmie lahir. Tuan Park yang sudah berjanji berubah dan keluar dari dunia gangstre mengingkari janjinya dan akhirnya Hyunji kembali pada Heechul. Sayangnya persainagn tuan Park membuat Hyunji di incar dan akhirnya meninggal dalam kecelakaan, meninggalkan Hyunmie yang baru saja berumur tiga bulan. Semenjak itu Hyunmie di besarkan di keluarga Kim. Dan lima tahun yang lalu Hyunmie baru tahu jika dia punya appa dan oppa lain bermarga Park. Tapi keluarga Kim tidak pernah mengizinkankan Hyunmie bertemu ayah biologisnya. Keluarga Kim takut Hyunmie bernasib sama seperti Park Hyunji ibunya.

“Oppa, sepertinya aku tidak bisa lama-lama bersama kalian.” Leeteuk mengerutkan keningnya binggung.

“Waeyo? biasanya kau menginapkan?” Hyunmie tersenyum salah tingkah. Biasanya dia akan bilang jika akan keluar untuk menginap di rumah sahabatnya, tapi kali ini Hyunmie tidak melakukannya karena sudah terlalu sering.

“Aku tidak bilang pada keluarga Kim, aku takut mereka curiga dan memarahiku. Sebenarnya tidak apa jika mereka marah, aku hanya takut mengecewakan mereka oppa.” Leeteuk menghembuskan nafas lemas, sekalipun Hyunmie saeng kandungnya, dia tidak bisa selalu bersama Hyunmie, selain secara hukum Hyunmie adalah keluarga Kim, Kim Heechul tidak pernah mengizinkan mereka bertemu, walaupun bisa di maklumi apa alasannya.

“Oppakan sudah memintamu untuk tinggal di USA saja bersama keluarga Park.” Ucap Leeteuk pelan, tapi lagi-lagi Hyunmie menggelengkan kepalanya.

“Shirro, aku juga menyayangi keluarga Kim oppa.” Hyunmie nampak sedih, bagaimanapun dia di besarkan di keluarga itu, da tidak bisa pergi begitu saja. Leeteuk kembali menghelah nafas lemas.

“Araseo… ahh itu appa.” Leeteuk menujuk seseorang di kedai ramen yang tak lain adalah tuan Park ayah mereka, mata Hyunmie berbinar ketika lelaki paruh baya itu melambaikan tangannya sambil berdiri bersiap menyambut putri bungsunya.

“Appppppa.” Hyunmie berteriak cukup keras membuat dua orang pengunjung di kedai ramen itu menatap sambil tersenyum kecil ke arah ketiganya. Tapi detik selanjutnya menggeleng tidak percaya ketika Hyunmie mencium bibir appanya cukup lama, dan sang appa hanya bisa menggelengkan kepalanya serta tersenyum kecil setelah Hyunmie menciumnya.

“Hyunie, kau ini sudah dewasa. Apa kau tidak malu masih mencium appamu di tempat umum?” bukan sebuah teguran lebih pada sebuah keusilan dari tuan Park, karena namja paruh baya itu tidak pernah keberatan dengan kebiasaan putrinya itu.

“Tapi aku menyukainya appa, itu tandanya aku menyayangi appa.” Sekali lagi tuan Park menggeleng pasrah begitupun Leeteuk yang kini tengah duduk menghadap kearah tuan Park. “Oh iya appa, mianhae, sepertinya aku tidak bisa lama-lama.” Tuan Park menatap heran kearah putrinya itu lalu menatap Leeteuk yang mengangguk, seolah mengiyakan apa yang terlintas di pikirannya. Tapi ingin mendengar langsung dari putrinya itu.

“Waeyo? Apa kau tidak merindukan appamu?” Hyunmie mempoutkan bibirnya sedih, dia benar-benar merindukan ayah biologisnya itu. Tapi dia juga tidak ingin mengecewakan appa yang sudah merawatnya sejak kecil.

“Aku takut keluarga Kim curiga, aku juga tidak ingin mengecewakan mereka appa.” Tuan Park hanya bisa mengangguk pasrah, tidak mungkin meminta putrinya ini untuk tinggal di USA bersama Leeteuk. Akhirnya mereka bertiga makan bersama di kedai ramen itu, menghabiskan waktu mendengarkan cerita Hyunmie selama beberapa bulan ini pada Leeteuk dan Tuan Park. Tuan Park sengaja bertemu dengan Hyunmie di kedai ramen agar, beberapa pesaingnya di dunia bisnis maupun dunia mafia tidak mencurigainya atau mencari tahu, dan selama ini berhasil. Itu juga yang menjadi alasan kenapa Tuan Park tetap mengizinkan Hyunmie tinggal dengan keluarga Kim walaupun Hyunmie anak kandungnya, Hyunmie lebih aman disana. Terlebih ada oppanya yang menjadi Jaksa dan Polisi. Setelah melewati malam bersama, Hyunmie kembali kerumah keluarga Kim tanpa ada seorangpun yang tahu.

***

Pagi ini di keluarga Kim nampak tenang, semuanya terbangun tepat waktu, terlebih Ryeowook dan Sungmin memasak sarapan pagi bersama, membuat aroma makanan membangunkan semua penghuni rumah, termasuk Hyunmie yang terbiasa terlamabat. Gadis itu terbangun ketika mencium bau pancake hangat. Dengan kecepatan tinggi Hyunmie turun hampir berlomba dengan Kibum yang memang kamarnya bersebrangan dengan Hyunmie. Namja pemilik senyuman maut itu bangun bersamaan dengan Hyunmie. Tidak ingin ada yang terjatuh di tangga, Kibum menyerah untuk dongsaengnya, membiarkan Hyunmie turun lebih dulu.

“Selamat pagi oppadeul.” Teriak Hyunmie ketika sampai di lantai satu, semua namja yang sudah ada di meja makan menatapnya dan berdehem menatap Sungmin, Hyunmie mempoutkan bibirnya sebal, tahu arti dari deheman appa dan oppadeulnya.

“Tidak biasanya kau bangun pagi?” Ucap Yesung sambil kembali menatap Sungmin yang tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangannya dari Pancake yang sedang ia buat. Hyunmie melempar bantal kursi ruang tengah ke kepala oppa tertuanya itu membuat Yesung mendelik marah, tapi ketika melihat saeng terkecilnya merengut Yesung hanya mengeleng pasrah. Hyunmie akhirnya terduduk di meja makan lesu, sesekali menatap Yesung yang sepertinya masih sebal padanya.

“Oppa… Yesung oppa!!”

“Hmm?” Hyunmie berdecak sebal ketika Yesung tidak mau menatapnya ketika di tanya.

“Kau akan rugi oppa jika tidak menatapku, ini tentang Yerye.” Mendengar nama Yerye, Yesung menghentikan kegiatannya menatap berkas kasus yang sedang ia tangani, menatap saeng tanpa berkedip.

“Cih menyebalkan.” Hyunmie hendak berdiri ketika Yesung memegang pergelangan tangannya lalu tersenyum polos.

“Mianhae chagia, palli apa yang Yerye katakan padamu?” walaupun masih kesal, Hyunmie kembali duduk di meja makan, menatap sebal kearah oppanya itu.

“Dia meminta oppa untuk datang kerumahnya malam ini.” Mata Yesung berbinar ketika, kekasihnya itu memintanya untuk datang, pasalnya beberapa hari terakhir ini mereka saling diam, karena kencan yang kembali gagal karena Yesung yang terlalu sibuk.

“Ji… jinjjayo?” Hyunmie mengangguk malas, matanya menyipit menatap Yesung.

“Awas jangan sampai lupa seperti kencan kemarin, aku tidak mau menjadi burung hantu untuk kalian.” Yesung menggaruk tengkuknya tidak gatal, Hyunmie memang sering menjadi menyatu keduanya jika sedang bertengkar.

“Akan aku usahakan.” Ucap Yesung sambil mengambil buku jadwal hariannya, memasukan jadwal pertemuannya dengan Yerye. Hyunmie menatap Kibum yang tengah menatap isi kulkas yang terlihat penuh dengan sayuran, Ryeowook kemarin memborong Supermarket sepertinya.

“Kibum Oppa?” Kibum menoleh pada saengnya sambil memegang buah apel yang dia ambil dari kulkas, tanpa di suruh namja itu duduk di sebelah Hyunmie. Membuat Hyunmie tersenyum senang.

“Harus aku apakan surat-surat di kamarku itu oppa? Sudah terlalu banyak.” Protes Hyunmie langsung, Kibum hanya tersenyum lalu mengelus kepala Hyunmie pelan.

“Kau bisa membuangnya jika kau mau. Oppa tidak akan punya banyak waktu membacanya.” Kibum siap berdiri ketika Hyunmie menariknya kembali untuk duduk.

“Yang ini? Apa oppa mau membacanya?” Hyunmie memperlihatkan satu amplop kecil berwarna biru di hadapan Kibum, namja itu kembali tersenyum.

“ Tak apa buang saja.” Kibum kembali berdiri melangkah ke arah tangga, dia akan kembali kekamarnya untuk mandi dan bersiap, karena ternyata sarapan belum siap. Tapi langkahnya terhenti ketika Hyunmie menyebutkan satu nama.

“Jung wo mi, surat ini dari dia. Apa oppa tidak mau membacanya?” tanpa di tanya dua kali Kibum kembali kearah Hyunmie dan mengambil surat itu dari tangan saengnya.

“Gomawo saeng.” Sebuah senyuman kembali terlihat di wajah namja tampan itu, kali ini matanya berbinar, membuat Hyunmie sedikit memutar matanya. Oppadeulnya sedang kasmaran.

“Bukanya oppa tidak suka membaca surat cinta?” sindir Hyunmie membuat Kibum menggaruk tengkuknya tidak gatal.

“ Yang ini berbeda, aku menunggunya sejak lama.” Hyunmie menggeleng pasrah ketika Kibum mengedipkan matanya senang lalu kembali ke kamarnya. Kangin yang memang hingga sekarang tidak memiliki kekasih menatap iri kedua saudaranya, lalu mendekat kearah Hyunmie.

“Hyunie_ah? Apa kau punya surat cinta untuk oppa?” Hyunmie mengerutkan keningnya binggung, tidak biasanya Kangin peduli tentang wanita.

“Oppa mau surat cinta? Apa aku tidak salah dengar?” Kangin meringis mendengar ucapan Hyunmie, entah kenapa dia mulai kesepian dan merasa bosan, dia ingin seseorang yang bisa memberi sedikit warna untuk hidupnya.
“Setidaknya kau bisakan mencarikan oppamu ini yeoja chingu juga?” Hyunmie tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya.

“Mianhae oppa sepertinya belum ada yang mau bertanya tentang oppa padaku.” Kangin menghelah nafas lemas, membuat Hyunmie merasa sedih.

“Tapi oppa tenang saja, aku pasti mendapatkan yeoja yang baik untuk oppa oky?” Kangin kembali bersemangat dia mengangguk cepat, lalu kembali duduk di depan laptop yang sempat ia tinggalkan di ruang tengah. Hyunmie kini kembali menatap Ryeowook dan Sungmin yang hampir menyelesaikan masakannya, membuat Hyunmie mergerak mendekat.

“Ryeowook oppa masak apa pagi ini? Wah wanginya membuatku semakin lapar. Apa lagi ada Pancake Sungmin oppa.” Ryeowook tersenyum senang, sejak pagi semua penghuni rumah lebih tertarik dengan Pancake Sungmin.

“Nasi goreng Pataya, oppa baru saja mencoba resepnya kemarin dan rasanya enak. Kamu mau coba Hyunie?” Hyunmie mengangguk lalu mendekat kearah Ryeowook menerima suapan dari sendok kecil yang Reyowook angsurkan, Hyunmie langsung mengacungkan kedua ibu jarinya, ketika mengunyah nasi goreng buatan Ryeowook. Namja mungil itu terlihat senang Hyunmie menyukainya. Sungmin yang melihat adegan itu ikut tersenyum senang dan saat itulah Hyunmie menatapnya, ada perasaan bersalah di hati Hyunmie mengingat ucapan Yesung kemarin. Perlahan Hyunmie mendekat kearah Sungmin.

“Oppa, bisakah kita bicara sebentar?” Hyunmie berkata pelan, menunduk sesekali membuat Sungmin sedikit heran, karena sikap Hyunmie jadi berubah. Tapi belum juga Sungmin menjawab, Hyunmie sudah menariknya keperpustakaan. Membuat beberapa namja yang sejak tadi memperhatikan Hyunmie saling pandang lalu mengangkat bahu tidak tahu. Hyunmie menutup ruang perpustakaan lalu menguncinya dari dalam, setelah yakin tidak akan ada yang masuk Hyunmie menatap Sungmin yang terlihat binggung dengan gerak-geriknya. Perlahan Hyunmie kembali mendekat kearah Sungmin, mengenggam kedua tangan Sungmin erat. Tatapannya penuh penyesalan, membuat Sungmin semakin binggung.

“Sungmin oppa, mianahe.” Ucapan Hyunmie semakin membuat Sungmin binggung. Merasa Hyunmie tidak membuat salah apapun padanya.

“Untuk apa kau minta maaf?” Hyunmie mengigit bibir bawahnya binggung, gerakan itu membuat Sungmin tertegun dan menelan ludah, astaga kenapa Hyunmie manis sekali. Gerakan Hyunmie selanjutnya kembali membuat Sungmin salah tingkah, Hyunmie menatap sayu bibirnya, menyentuh dengan lembut bibir Sungmin. Jika dalam kondisi normal, Hyunmie pasti sudah ingin mengusili Sungmin, tapi kali ini dia dalam rangka meminta maaf.

“Aku dengar oppa selalu gagal berpacaran dengan para yeoja, hanya karena oppa tidak mau berciuman, dan Yesung oppa bilang itu karena kau trauma berciuman setelah aku mengigit bibirmu dulu.” Wajah Sungmin memerah, ia tidak menyangka Yesung mengatakan hal itu pada Hyunmie, padahal dia sempat memohon pada Yesung untuk tidak mengatakannya pada Hyunmie, karena baginya itu sangat memalukan. Sungmin mengenggam tangan Hyunmie yang masih meraba bibirnya, berusaha tersenyum lalu menggeleng kecil.

“Anni, itu bukan salahmu, aku saja yang tidak ingin berciuman dengan yeoja manapun di dunia ini kecuali denganmu.” Ucapan Sungmin membuat Hyunmie menatap Sungmin tak percaya, lebih terkejut lagi ketika menatap Sungmin yang kini melihatnya sedikit berbeda, mata itu sedikit gelap membuat Hyunmie menelan ludahnya gugup. Perlahan Sungmin menarik tangan kiri Hyunmie menyentuh dadanya, jantung itu berdetak cepat, itulah yang terasa di tangan Hyunmie, memberi sensai lain yang membuat jantungnya ikut berdetak cepat. Hyunmie semakin gemetar ketika jari telunjuknya di jilati Oleh Sungmin dengan tatapan yang semakin membuatnya tenggelam, tenggelam dalam pesona seorang Lee Sungmin. Bahkan Hyunmie tidak sadar ketika Sungmin sudah mencium bibirnya dengan lembut. Tapi sayang keadaan itu terganggu oleh ponsel Hyunmie yang berdering. Dengan cepat Sungmin menjaga jarak dari Hyunmie, sementara gadis itu perlu beberapa waktu untuk sadar dari keterkejutannya dari pesona Sungmin. Dengan kesadaran yang belum terkumpul Hyunmie mengangkat panggilan yang masuk.

“Yeobseyo?…. ah Zhoumi_ah waeyo?…. baiklah akan aku coba, katakan pada hyungmu untuk menjemputku di rumah sepulang sekolah…. ne ceonma…. annyeong.” Hyunmie menutup panggilannya lalu kembali menatap Sungmin yang seolah ingin tahu siapa yang mengganggu waktu romantisnya dengan Hyunmie.

“Nuguseyo?” tanya Sungmin pelan dia tidak mau membuat Hyunmie tersinggung karena ikut campur urusan pribadinya.

“Ah, ini chinguku, dia memintaku agar mau berkencan dengan Hyungnya.” Ucapan Hyunmie sukses membuat Sungmin terkejut.

“Mwo? Kau terima begitu saja?” tanya Sungmin tak percaya, membuat Hyunmie mengerutkan keningnya heran.

“Ne. Waeyo? Apa ada yang salah?” Sungmin menatap Hyunmie tidak percaya, membuat Hyunmie menyipitkan matanya bermaksud membuat Sungmin salah tingkah.

“Ah… oppa ingin berkencan denganku iya?” jawaban Sungmin di luar dugaan Hyunmie.

“Ne. Tadinya begitu.” Kali ini Hyunmie yang salah tingkah dan kehabisan kata-kata, tadinya Hyunmie hanya ingin berniat usil pada Sungmin agar ketegangan berkurang anatar keduanya, tapi yang ada keadaan semakin kaku. Sungmin kembali mendekat, kali ini membuat Hyunmie sedikit ciut, namja itu kembali mengenggam kedua tangannya.

“Tidak ada wanita yang benar-benar aku cintai selama ini, itu sebabnya aku tidak pernah mau berciuman dengan mereka. Aku hanya mencintaimu Hyunmie. Berkencanlah denganku.” Hyunmie lagi-lagi kehilangan kata-kata, selama ini tidak ada yang mengatakan hal romantis padanya seperti Sungmin sekarang, dan lagi-lagi Hyunmie tenggelam dalam pesona Sungmin ketika dengan perlahan Sungmin memberikan kecupan-kecupan ringan di bibirnya, dan entah mengapa Hyunmie mengimbanginya dengan senang hati. Dan ciuman itu semakin lama berubah semenjadi lumatan-lumatan dalam yang Sungmin berikan.

Sesaat Sungmin melepas ciuman itu, menarik nafas dalam-dalam tepat d hadapan wajah Hyunmie.

“Lakukan, lakukan apa yang dulu kau lakukan Hyunmie, jebal gigit bibirku lagi.” Seperti mantra Hyunmie melakukan apa yang Sungmin inginkan. Sepertinya Sungmin tahu cara menaklukan wanita, tapi sayang kemampuannya itu hanya ia pergunakan untuk Hyunmie saja.

Entah berapa lama keduanya berciuman, yang jelas cukup lama sehingga butuh jeda untuk keduanya menarik nafas, Sungmin masih menatap Hyunmie seduktif, dia tidak menyangka ciuman dengan Hyunmie bisa membuat seluruh persendiannya sakit.
“Hyunmie, buka mulutmu sedikit.” Ucapan Sungmin seolah menarik kesadaran Hyunmie kembali, Hyunmie bermaksud melepaskan pelukan Sungmin, ketika namja imut itu justru merapatkan pelukannya pada Hyunmie.
“Oppa…” gumam Hyunmie tidak percaya, kali ini sungmin menyentuhkan keningnya pada kening Hyunmie.
“Jebal…”
“Ta… tapi hmm_” ucapan Hyunmie tertahan ketika Sungmin mendapat kesempatan memasukkan lidahnya kedalam mulut Hyunmie, membelit lidah Hyunmie sedemikian rupa, membuat Hyunmie merasa tenaganya hilang entah kemana, tapi kenangannya di masa lalu seolah memberi tenaga exstra untuk Hyunmie, dengan kekuatan itu Hyunmie mendorong tubuh Sungmin menjauh darinya. Keduanya menarik nafas dalam-dalam. Hyunmie benar-benar tidak percaya, Sungmin yang dia kenal bisa sangat seliar ini. Dan lagi-lagi Sungmin mengambil pengalaman pertamanya, setelah ciuman pertama yang Sungmin ambil darinya dulu, kini Frenc kisspun Sungmin yang mengambilnya. Ada raut kecewa di wajah Sungmin, membuat Hyunmie menghelah nafas frustasi.
“Kenapa? Apa yang salah?”
“Oppa kumohon hentikan, jangan melakukan hal ini lagi. Aku akan semakin bersalah padamu, kau tahukan aku hanya menganggapmu oppaku.” Ucapan Hyunmie membuat Sungmin semakin tertunduk. Sungmin menatap Hyunmie dalam-dalam, namja itu kembali mendekat kearah Hyunmie, tapi kali ini Hyunmie munduh ketika Sungmin mendekat.
“Aku yakin kau juga mencintaiku Hyunmie_ah, aku bisa merasakannya dari ciumanmu padaku.” Sungmin berusaha meyakinkan Hyunmie, tapi Hyunmie hanya bisa tersenyum miris. Sungmin tidak tahu apa yang terjadi semenjak ciuman yang mereka lakukan ketika Hyunmie masih kecil. Ciuman itu berdampak lain untuk hidupnya.
“Oppa tidak tahu apa yang terjadi padaku semenjak oppa menciumku. Ciuman itu membuatku menyukai atau bahkan sangat ketergantungan dengan ciuman seorang namja setiap hari, hari ini kau juga memberiku Frenc kiss dan kaulah yang lagi-lagi mengambilnya oppa.” Sungmin untuk beberapa detik membeku di tempat, da butuh beberapa detik untuk mencerna informasi yang ia dengar.

“Mi…mianahae… a… aku, aku tidak tahu semua akan menjadi seperti itu.” Sungmin menundukan kepalanya malu, dia tidak tahu akibat kecerobohannya dulu merusak Hyunmie. Sekali lagi Hyunmie menghelah nafas, semua sudah terjadi. Dia sendiri terlalu bodoh tidak bisa mengendalikan keinginannya merasakan ciuman bersama Sungmin tadi. Perlahan Hyunmie merengkuh wajah Sungmin yang masih menunduk di hadapannya. Menatap mata yang tengah berkaca-kaca penuh penyesalan.
“Gwenchanayo… semua sudah terjadi oppa, aku juga benar-benar minta maaf sudah mengigit bibirmu waktu itu.” Sekali lagi Sungmin tersenyum sayu, dia menggeleng pelan.
“Aku suka kau mengigit bibirku Hyunmie, jadi bisakah kau memberiku kesempatan?.” Hyunmie hanya bisa menggeleng pelan mendengar ucapan Sungmin.
“Aniya oppa, aku tidak bisa.”
“Lalu kenapa pada hyung chingumu kau langsung menyanggupinya, padahal namja itu orang asing, berbeda denganku. Aku sudah mengenalmu sejak kecil Hyunmie.” Hyunmie menghelah nafas frustasi. Jelas saja beda karena bagi Hyunmie itu bukan kencan.
“Ini berbeda oppa, mungkin bisa di sebut terapi dari pada kencan. Aku menolong bukan memberi kesempatan. Bukan membuka hati.” Sungmin paham dengan arti membuka hati. Sungmin tahu Hyunmie masih menunggu cinta masa kecilnya.
“Sampai kapan? Sampai kapan kau menunggunya? Sampa kapan kau terus menutup hatimu untuk orang lain?” Hyunmie bergerak gelisah dia tahu dia menunggu seseorang yang mungkin tidak akan ia temui kembali. Tapi hanya namja di masa kecillah yang benar-benar membuat hatinya berdebar, sekaligus merasakan rasa nyaman.
“Aku tidak tahu oppa, tapi kumohon jangan lakukan hal tadi lagi padaku.” Hyunmie memohon, tapi Sungmin tetap keras kepala. Dia tidak mau kalah dengan seseorang yang tidak ada secara nyata di hadapannya.
“Aku tidak akan menyerah kau tahu itu Hyunmie. Aku mencintaimu sudah lama.” Hyunmie menggeleng lalu mendesah frustasi.
“Keras kepala.” Sungmin mengangkat bahunya tidak peduli, dengan lemas Hyunmie menarik tangan Sungmin keluar dari perpustakaan, berbahaya jika terlalu lama disana.

TBC

Tinggalkan komentar

6 Komentar

  1. _elf_

     /  Agustus 14, 2014

    Aigoooo. Di post jugaaaaa. Keren bgt thorrrrr. Aku suka. Sebagai reader yg rakus, nenurutku kurang panjang wakakaka

    Balas
  2. shelly

     /  Januari 4, 2015

    Eonni, aku nunggu ff ini udh lama banget lo eon, kapan dilanjut/? Aku bingung deh ga bisa nebak nnti hyunmie di ending sma siapa, sma kyu aja ya eon,hihi. Ttep aku tunggu ya eon, semangat 😘

    Balas
    • sabar iya emng rada susah mau ngerjan FF ini soalnya part selanjutnya sungmin oppa dan tahukan sungmin oppa udah nikah rasanya aneh aja, bikin skinsip sama namja yang udah nikah…

      Balas
  3. Mitarashi8899

     /  Juni 27, 2015

    Aigoo.. Kalau ada sindrom ky hyunmi ke enakan co x ya aahahahah.. Aku ky nya udh bc part 1 sm 4nya tp lupa aku comment or ga… But i’ll be waiting 4 next

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: