FF Series//The Past Love

FF Series//The Past Love

Autor:YJK

Tittel:The Past Love

Cast:Park Hyunmie,Lee Donghae, Cho Kyuhyun and all member Super Junior

Gender:Fantasi, Action, Sad Romantis

Leght:Oneshoot

Rating:PG 15+

Annyeong YJK bawa FF jadul nih, kalau dulu di jadiin 5 chapter kali ini di jadiin oneshoot aja. Mian tidak sesuai EYD dan miss typo bertebaran.

Summary

‘Ikatan masa lalu itu begitu kuat, tapi kita sendirilah yang menentukan akan berakhir sama seperti dulu yang kelam atau indah di masa depan’

Story Begin

Kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita, karena Tuhan yang mengatur, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian, atau sebaliknya, melewatinya dalam satu kehidupan atau dua kehidupan. Terbayar jika satu kehidupan menderita, kehidupan kedua bahagia, tapi jika keduanya menderita, siapa yang di salahkan? tentu saja kehidupan yang kita pilih yang harus di salahkan, dan itu terjadi pada sepasang anak manusia, anak gadis dari keluarga Park. Gadis ini mengingatkan kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya.

Malam merangkak semakin gelap, mengurangi aktivitas sebagian manusia di luar ruangan, bahkan sebagian sudah bergelut dengan selimutnya, memejamkan mata menanti esok hari. Tapi tidak dengan rumah besar keluarga Park, lebih tepatnya sebuah markas besar yang justru akan terlihat ramai di malam hari, aktivitas sebagian besar di lakukan memang pada saat langit gelap. Seperti malam ini, sekitar sepuluh orang namja tengah berkumpul di halaman keluarga Park yang luas, menunggu atasan mereka keluar, melakukan penyerangan pada tetangga yang mengusik daerah kekuasaan keluarga Park.

Seorang namja dengan tegapnya menatap seorang pria paruh baya di hadapanya dengan sorot mata tajam, meyakinkan kepada orang di hadapanya jika keputusannya memang tepat.

“Biar aku dan saengku yang menghadapinya, appa tidak perlu turun tangan.” Namja itu sekali lagi, mengemukakan pendapatnya pada sang ayah, yang masih terlihat ragu dengan keputusan putra pertamanya itu, sang ayah nampak menopang dagu dengan bertumpu pada punggung tangannya, lalu kembali menatap anaknya lekat-lekat.

“Kau yakin?”

“Ne appa.” Ucap namja itu tegas, sang ayah nampak menghelah nafas lalu mengangguk paham.

“Kalau begitu jaga saengmu, dia memang hebat, tapi dia tetap yeoja, araseo?” ucap sang ayah tegas, dan namja itu langsung mengangguk tegas. Meyakinkan ayahnya jika ia mampu menjaga saeng kesayanganya itu.

“Ne araseo, appa tidak perlu meragukan kemampuan saengku, aku juga tidak perlu membawa banyak orang, lokasinya tidak memungkinkan.” Sekali lagi namja paruh baya itu mengangguk, dia memang tidak akan meragukan kemampuan putranya.

“Baiklah, bawa berapapun orang yang kau mau.” Ucap sang ayah memberi intruksi anaknya, untuk segera berangkat.

“Gomawoyo appa.” Ucap namja tampan itu, lalu membungkuk memberi hormat lalu melangkah pergi dari ruang kerja ayahnya.

Di ruang tamu terlihat seorang yeoja cantik nampak menunggu bosan, beberapa kali ia berdecak sebal sambil sesekali memperbaiki letak bajunya yang terlihat kebesaran di tubuh mungilnya, tapi tetap terlihat pantas di tubuhnya, ikat kepala memberi aksen garang untuk menutupi wajah manisnya. Kepalanya berputar cepat ketika ruang kerja ayahnya terbuka, memperlihatkan sosok oppa kesayangannya, dengan wajah berbinar yeoja itu mendekat ke arah oppanya itu.

“Otte oppa? aku boleh ikut?” tanya yeoja itu antusias.

“Tentu saja Hyunmie_ah.” Ucap namja itu dengan lantangnya, membuat mata yeoja bernama Hyumie itu semakin berbinar, lalu memeluk oppanya itu kegirangan.

“Ahh gomawo Leeteuk oppa, kajja aku sudah tidak sabar oppa.” Ucap Hyumie pada Leeteuk yang langsung merangkul lengan oppanya tak sabaran, membuat Leeteuk mencubit gemas wajah Hyunmie yang langsung merengut sebal.

“Tsk, kau ini yeoja, tapi hobimu___.” Belum selesai bicara Hyunmie langsung memotong ucapan Leeteuk.

“Ck, oppa jangan bawa gender, aku tidak suka, bagiku yeoja atau namja tidak ada bedanya.” Sungut Hyunmie membela diri, Leeteuk hanya memutar bola matanya menyerah, saengnya tidak akan mempan dengan larangannya.

“Ara, araseo kajja, ah chakkaman apa kau sudah mengumpulkan semuanya?” Hyunmie langsung mengangguk cepat.

“Sudah, seperti yang oppa bilang, seminim mungkin.” Leeteuk namapak tersenyum senang, lalu kembali mencubit pipi Hyunmie sayang.

“Appo…” gumam Hyunmie sebal. Membuat Leeteuk terkekeh geli.

“Aigoo saeng oppa memang pintar, kajja.” Leeteuk lalu merangkul saengnya dan berjalan keluar rumah, di luar sudah banyak namja yang sudah menunggu. Semua langsung membungkuk hormat pada Hyunmie dan Leeteuk.

“Kalian sudah siap?” tanya Leeteuk tegas, semua serempak menjawab, menyatakan kesiapanya. Seorang dengan perawakan sedang tapi mengeluarkan aura pekat nampak maju kedepan.

“Ne hyung kami sudah siap, ommo agasi anda ikut lagi?” tanya namja itu terkejut menyadari kehadiran Hyunmie di samping Leeteuk.

“Waeyo? apa karena aku yeoja? Tsk, aku bisa menumbangkan 50 orang hanya dalam waktu 10 menit saja, jadi jangan remehkan aku yesung oppa.” Dengus Hyunmie kesal, ia nampak melipat tangannya di dada, ia benci di remehkan. Yesung menggeleng cepat, ia tidak bermaksud menyinggung nona besarnya.

“Anniya, hanya saja sayang jika agasi yang cantik ini tergores senjata tajam.” Ucapa Yesung sedikit pelan, merasa bersalah karena membuat perasaan Hyunmie buruk. Hyunmie nampak mendekat kearah Yesung lalu berkacak pinggang.

“Kau tenang saja Yesung, saengku lebih berpengalaman di bandingkan dengan kau, dia sudah lama di LA yang lebih keras dari pada di Korea.” Leeteuk langsung mengalihkan perhatiaan Hyunmie yang sepertinya ingin marah, dan kali ini Hyunmie bertepuk keras, menandakan setuju dengan ucapan oppanya.

“Bingoo, benar sekali Leeteuk oppa, geure, siapa yang masih meragukan kemampuanku?” ucap Hyunmie sambil menatap kesepuluh namja di hadapanya yang menunduk dalam. Semua diam, hening tak ada yang menjawab. Tak ada jawaban Hyunmie nampak tersenyum puas, ia langsung berjalan keluar gerbang di ikuti yang lainnya termasuk Leeteuk.
 
Semua orang sudah melangkah lebih dahulu memasuki gang-gang kecil Leeteuk dan Hyunmie mengekor di belakang namja yang berjumlah 10 orang tadi.
 
“Oppa, tadi kau bilang siapa yang akan kita hadapi?” tanya Hyunmie penasaran.

“Kangin, dia ketua gang The Trax, anak itu berusaha mengambil dareah kekuasaan kita dengan memasok barang ke daerah kita yang jelas-jelas di larang.” Hyunmie nampak mengangguk paham, bibirnya nampak tersenyum sebal.

“Ahh jadi mereka ingin berurusan dengan kita begitu? lalu sekarang kita akan menyerangnya?” tanya Hyunmie lagi, sepertinya gadis ini bernafsu untuk menghajar seseorang.

“Kita bicara dulu baik-baik, kalau tidak pukulan yang akan bicara.” Ucap Leeteuk pelan tapi menyiratkan rasa tak sabarnya seperti Hyunmie.

 
 Sesampainya di gang kecil tempat bertemunya kedua gank, nampak beberapa orang sudah menanti Hyunmie dan Leeteuk.
 
“Mana ketua kalian? apa dia takut sampai tidak datang langsung kemari.” Kangin berseru sambil mencerca, karena 10 namja itu seolah tak berpemimipin.
 
“Aku disini, jika hanya menghadapi 10 orang seperti kalian, aku saja sudah cukup.” Hyunmie maju kedepan bersama Leeteuk, Ketika Kangin mulai berkoar tak karuan, setelah melihat kedatangan Hyunmie, Kangin menyipitkan matanya lalu tertawa lebar.
 
“Jadi ini ketua Red Angel? seorang yeoja cantik?” Hyunmie berdecak kesal, hari ini terlalu banyak orang yang meremehkan kemampuanya.

“Cih, kau terlalu meremehkan aku, oppa lebih baik kita bantai saja sekarang.” Gumam Hyunmie geram, Tapi Leeteuk memegang bahu Hyunmie untuk menahan amarahnya terlebih dahulu.

“Anniya Hyunmie_ah, kita bicara dulu.” Ucap Leeteuk pelan di sebelah telinga Hyunmie. “Yak!! Kangin_ssi, sebaiknya kau tarik anak buahmu atau kau dan gang barumu itu musnah.” Teriak Leeteuk sedikit mengancam, tapi hanya di balas senyum meremehkan dari Kangin.

“Tsk, aku tak memilih keduanya.” Ucap Kangin santai, membuat Leeteuk nampak mengepalkan tangan penuh amarah.

“Oppa, dari awal mereka memang cari mati.” Geram Hyunmie tertahan, Leeteuk nampak tersenyum sinis menanggapi ucapan saengnya, sepertinya ucapan saengnya benar.

“Sepertinya begitu Hyunmie_ah.” Geram Leeteuk sambil mulai menatap kearah Yesung, seolah memberi isyarat untuk bersiap. ”Yak hajar mereka.” Teriakan Leeteuk menjadi awal perkelahian antar gank The Trax dan The Red Angel, dengan senang hati Hyunmie mendominasi perkelahian. Sepuluh lawan sepuluh bukan lawan seimbang untuk Red Angel yang terkenal ilmu bela dirinya, seolah tersudut, mereka berlari seolah menghindar, membuat Hyunmie tersenyum meremehkan begitupun anggota Red Angel yang lain mereka tersenyum senang karena berhasil membuat lawan takut, dengan senang hati mengejar lawanya.

The Trax berhenti di lapangan yang lebih luas, lalu mereka semua berbalik dan Kangin tersenyum licik, tak lama kemudian lima puluh orang keluar dari setiap gang-gang kecil lain.
 
“Kalian pikir kami bodoh, tidak mencari tahu kemampuan lawan kami.” Kangin tersenyum menang, dia begitu percaya diri karena sekarang merasa lawannya kalah jumlah. Kangin menatap kearah sebelah kananya, seorang namja tampan bertubuh tinggi tegak, berdiri di sampingnya menatap lawannya tajam.
 
“Yak! Kyuhyun_ah, hanya ini yang bisa kau kumpulkan?” pertanyaan Kangin hanya di balas gelengan kecil.

“Anniya hyung, masih banyak lagi di belakang.” Kangin kembali tertawa puas, lalu kembali menatap Hyunmie meremehkan.
 
“Otte agasi? kau mau menyerah? kalian jelas-jalas kalah jumlah.” Paertanyaan Kangin tak di gubris sama sekali oleh Hyunmie, yeoja itu seperti menatap santapan malam kearah namja-namja yang bermunculan dari gang-gang sempit lainnya, Leeteuk yang menyadari tatapan saengnya hanya tersenyum kecil. Hyunmie lalu tersenyum evil memandang lawanya yang terus bermunculan dalam jumlah besar.

Jumlah ini sebelum aku datang mungkin kalah banyak, tapi…” Hyunmie menghentikan ucapannya, membuat Kangin mengerutkan keningnya.

“Tapi apa?” ucap Kangin penasaran, karena wajah musuhnya justru terlihat senang.

“Tapi berbeda karena sekarang ada aku, serang…” Hyunmie kembali menyerukan perintahnya, dan perkelahaian kembali terjadi, jika tadi Hyunmie sedikit main-main, kali ini ia mengeluarkan semua kemampuan ilmu bela dirinya, mengingat jumlah musuh memang sedikit banyak dari biasanya. Kangin menggeram sebal, merasa musuhya benar-benar meremehkannya.
 
 
“Kau terlalu percaya diri untuk ukuran yeoja, Habisi mereka…” adegan kekerasan Kembali terjadi, walaupun kalah banyak, ternyata Red Angel tetap ungul dengan lawan 10 lawan 50, dan rata-rata habis terkena hantaman Hyunmie. Melihat ini Kangin geram, Kangin mulai bersiap-siap memukul Hyunmie dari belakang, tapi Yesung menghalangi dan…
 
BRUKK

Hantaman balok kayu telak mengenai kepala Yesung, seketika itu juga Yesung ambruk, Hyunmie berbalik, matanya membulat ketika Yesung tumbang.
 
“Yesung oppa.” Teriak Hyunmie panik, ia menatap Kangin geram, sekali tendangan Kangin tersungkur kebelakang, Leeteuk dan beberapa anggota Red Angel mendekat kearah Yesung, membuat mereka di kepung oleh anggota The Trax yang tersisa.

“Oppa bawa Yesung oppa pergi dari sini.” Ucapa Hyunmie sambil tetap waspada menatap lawannya, Hyunmie membelakangi Leeteuk yang berusaha menyadarkan Yesung tapi sia-sia, Leeteuk menatap punggung saengnya, tangan saengnya mengepal kuat, seolah amarahnya semakin meledak-ledak. Leeteuk menggeleng kuat.

“Anniya, kau bagaimana saeng?” ucap Leeteuk cemas. Hyunmie sedikit menggerakan kepalanya kesamping, dengan mata tetap siaga.

“Oppa tak perlu mengkhawatirkanku, palli dia butuh pertolongan, ambil ponselku ini, telepon Ryeowook oppa, tarik anak buah yang lain, aku sendri yang akan membantai gang menyebalkan ini.” Ucap Hyunmie kembali menggeram sambil menatap kembali anak buah Kangin yang semakin mendekat.

“Keunde__” Leeteuk kembali berusaha menolak rencana saengnya, tapi Yesung kembali memuntahkan darah dari mulutnya membuat Hyunmie semakin yakin dengan keputusannya.

“Sudahlah ini kecil bagiku.” Ucap Hyunmie percaya diri lalu mulai mengeluarkan stik pemukulnya, Leeteuk dilema, tapi Yesung memang membutuhkan pertolongan secepatnya, Yesung adalah sahabat terbaiknya, lagipula melihat jumlah musuh, Leeteuk yakin Hyunmie sanggup menghadapinya.

“Baiklah, Yakk, mundur semuanya.” Terikan Leeteuk kembali membuat anggota Red Angel kembali siaga, bermaksud membuka jalan, dengan cepat anak buah Red Angel lalu pergi meninggalkan Hyunmie sendirian di kerumuni 20 orang yang masih bisa berdiri, Kangin kembli tersenyum sinis lalu tertawa puas.
 
“Mereka terlalu nekat meninggalkan seorang yeoja sendirian.” Ucap Kangin mulai mendekat kearah Hyunmie yang kini di kepung anak buahnya, tapi yeoja itu hanya memasang exspresi dinginya.

” Ternyata kau masih meragukanku, kau tahu aku tidak bisa menyerang sekaligus melindungi, jadi tanpa mereka justru bagiku lebih mudah.” Kangin semakin geram dengan kesombongan yeoja di hadapanya. “mati kau.” Seketika pertarungan yang tak seimbang terjadi,tapi benar apa kata Hyunmie, perkelahian lebih mudah untuknya, tanpa rasa cemas, Hyunmie memang hebat dia bisa menumbangkan 14 orang sekaligus, tapi perkelahian itu terganggu oleh serine polisi, semua orang kocar kacir dan naasnya sebelum kabur Kangin memberi hadiah pada Hyunmie berupa bacoakan di lengan kananya yang membuat Hyunmie mengerang kesakitan.

“Brengsek kau Kangin.” Erang Hyunmie sambil membekap lukanya, Kangin nampak tersenyum puas lalu lari dari lokasi perkelahian. Semua berlari dari kejaran polisi, begitupun dengan Kangin dan Kyuhyun, Tapi sayang keduanya harus terpisah, karena jika bersama akan terlalu mencolok dan membuat polisi lebih mudah menangkap mereka. Kyuhyun nampak sempoyongan, energinya sudah cukup terkuras banyak, tubuhnya sudah tak bisa ia ajak kerjasama lagi, terutama jantungnya, Kyuhyun bahkan sudah tak peduli dengan luka di keningnya, rasa sakit di jantungnya lebih mendominasi, tak sanggup akhirnya Kyuhyun terjatuh, rasanya dunia serasa gelap sekarang, Kyuhyun pasrah jika polisi berhasil menangkapnya, asal Kangin lolos ia masih bisa bebas nantinya.

***
 
 Bukan hanya gank The Devil yang berlarian, Hyunmie yeoja itu juga ikut berlari setelah bacokan telak di lengan kirinya yang sempat Kangin hadiahkan pada Hyunmie. Tapi darah yang terus menetes dari lengannya tidak memungkinkan yeoja kecil itu berlari semakin jauh, dengan terpaksa Hyunmie bersembunyi diantara himpitan box pengiriman barang, Hyunmie sedikit mengatur nafasnya yang harus ia hemat agar tidak pingsan dijalan, keringat dingin merempes dari kening dan juga lehernya, Hyunmie menutup matanya berharap nafasnya bisa ia atur kembali. Tapi suara seseorang terjatuh tepat di samping kirinya membuat Hyunmie membuka matanya, menatap asal suara. Hyunmie melihat salah satu anggota The Devil terduduk meremas jantungnya, otak Hyunmie berjalan cepat, yeoja itu menarik namja tersebut ketempat persembunyiannya, sesaat namja itu terkejut ketika melihat siapa yang menariknya.
“Kau!!___” kata-kata namja itu terputus ketika saat itu juga Hyunmie membekap mulutnya.
“Ssst… Diamlah.” gumam Hyunmie pelan, namja itu tak berkutik ketika tangan Hyunmie yang tak membekap mulutnya mengelus dadanya yang sejak tadi ngilu, Hyunmie sendiri menatap kearah kiri, memastikan polisi sudah pergi atau tidak. Namja itu terus menatap Hyunmie dalam-dalam, ada rasa hangat dan damai ketika Hyunmie di sampingnya. Setelah polisi pergi, Hyunmie menghelah nafas lega, di tatapnya namja yang sejak tadi ia bekap, Hyunmie menatap dalam-dalam mata namja di hadapannya. Manik matanya beralih pada kening namja di hadapannya, perlahan Hyunmie melepas bekapannya lalu ia mencopot ikat kepala yang sejak tadi bertengger di kepalanya, lalu memasangkannya kekening namja di hadapannya, sekali lagi namja itu terdiam. Mencerna setiap tingkah laku yeoja di hadapannya, yang notabene adalah ketua musuh gank Hyungnya Kangin.
“Kenapa kau menolongku?” pertanyaan itu menghentikan kegiatan Hyunmie mengikat ikat kepalanya di kening namja itu, sebuah senyuman tulus membuat namja itu mulai merasakan jantungnya berlomba tak karuan. Hyunmie kembali melanjutkan kegiatannya, setelah selesai Hyunmie meletakan tangan kirinya tepat di dada namja itu.
“Karena ini. Jika jantungmu ini sehat aku tidak akan menolongmu.” ucapan Hyunmie kembali membuat namja di hadapannya itu terpaku.
“Dari mana kau___”
“Tahu? Simpel, kau memegang dadamu ketimbang keningmu yang terluka, menandakan jantungmu lebih sakit dari pada keningmu.” Kyuhyun namja itu hanya menatap sayu yeoja dihadapannya, kepekaan yeoja ini benar-benar luar biasa. Terlebih kebaikannya. Tapi mata Kyuhyun membulat ketika matanya menatap lengan kiri Hyunmie terluka parah.
“Ka… Kau terluka?” Hyunmie melirik luka di lengan kirinya, lalu mengangguk kecil.
“Ketuamu hebat, sekaligus licik. Dia bisa melukaiku walaupun ketika aku lengah.” ucapan Hyunmie membuat Kyuhyun nampak bersalah, tangannya berniat melepas ikat kepala yang Hyunmie kenakan, tapi ditahan Hyunmie.
“Andwe. Kau lebih memerlukannya.” ucap Hyunmie sambil memegang tangan Kyuhyun.
“Justru kau yang lebih membutuhkannya. Luka di keningku luka kecil.” ucap Kyuhyun antara kesal, cemas dan sedih. Hyunmie kembali tersenyum lembut.
“Kau sedang sakit, luka sedikitpun berpengaruh padamu. Sembuhlah, kita bertemu lagi lain waktu, senang bertemu denganmu. Annyeong.” Hyunmie pergi meninggalkan Kyuhyun dengan seribu perasaan yang bersarang di hatinya.

“Yeoja aneh, kuat beringas tapi berhati lembut.” Kyuhyun tersenyum sambil memegang jantungnya, ada yang berdesir di hatinya, sesuatu yang sudah lama Kyuhyun tidak rasakan lagi. Setelah semuanya telihat sepi, dengan tertatih Kyuhyun keluar dari tempat persembunyiannya.
 
Di tempat lain Leeteuk dan kawananya sudah sampai di rumah atau lebih tepatnya sebuah markas besar. Dengan sedikit ragu, Leeteuk melaporkan semuanya pada sang appa, dan seperti dugaan Leeteuk sang appa menanyakan keberadaan putri kesayangannya.
 
PLAKKK
 
Tamparan telak mendarat mulus di wajah Leeteuk, laporan tidak memuaskan yang Leeteuk sampaikan membuat Tuan Park marah, terlebih kecerobohan Leeteuk yang meninggalkan Hyunmie di lokasi membuat tuan Park semakin murka.

“Aku sudah bilang jaga saengmu baik-baik, kenapa kau malah meninggalkannya.” Tuan Park Yong Jin kembali berteriak keras di depan muka Leeteuk dia benar-benar murka pada Leeteuk yang pulang tak membawa putri bungsu kesayanganya.
 
“Aku tidak ada pilihan, anggota lain sudah kelelahan dan juga Yesung terluka parah lagipula aku percaya dengan kemampuan saengku appa.” Ucap Leeteuk berusaha membela diri, tapi tuan Park tetap tak terima.

“Tapi tetap saja dia yeoja pabo, apa yang kau lakukan pada saengmu eoh? Kau lebih mementingkan orang lain dari pada saengmu?.” Kali ini Leeteuk hanya bisa menunduk dalam, rasa cemas mulai menjalari hatinya.

“Mianahe appa, aku akan menyusulnya sekarang.” Ucap Leeteuk lalu dengan cepat pamit keluar ruangan, meninggalkan tuan Park yang bisa menghembukan nafas cemas. Sebelum berangkat Leeteuk terlebih dahulu masuk kesebuah kamar, tepatnya adalah kamar dimana Yesung drawat oleh Ryeowook.
 
“Ryeowook_ah bagaimana dengan Yesung hyungmu?” Tanya Leeteuk cemas, Ryeowook yang sedang mengecek urat nadi Yesung nampak tersenyum tipis kearah Leeteuk.

“Dia baik-baik saja hyung, aku sudah menjait lukanya, aku yakin besok dia sudah sadar lagi, ah iya Hyung yeoja bengis itu kau tinggal sendiri? hyung kau pasti kena amuk appamu?” Leeteuk nampak menarik nafas lemas, seolah menjawab pertanyaan Ryeowook.

“Sudah pasti, sudahlah aku harus menyusul saengku, aku takut terjadi sesuatu denganya,oh iya gomawo kau menyempatkan diri kemari, kau memang dokter yang hebat.” Ucap Leeteuk sambil menepuk bahu Ryeowook, namja manis itu kembali tersenyum tipis.

“Ini semua berkat saengmu hyung, jadi palli tolong dia.” Ucap Ryeowook mulai cemas.

“Ara, nan khayo.” Ucap Leeteuk sambil melangkah pergi meninggalkan kamar tersebut. Ryeowook mulai mengedarkan matanya kepenjuru arah, warna kamar ini bernuansa biru, warna yang begitu di gilai yeoja yang sangat ia cintai

“Kuharap kau baik-baik saja…” dalam Hati Ryeowook berdoa untuk keselamatan Hyunmie.

Malam mulai merangkak menuju dini hari, udara semakin dingin, menusuk setiap sel kulit yang tidak tertutup kain, tapi semua itu tidak menyurutkan pencarian Leeteuk di sepanjang jalanan kota Seou,l 1 jam dari tempat pertarungan Leeteuk dan kelompok Kangin, Leeteuk beum juga menemukan saeng kesayangannya itu, rasa cemas semakin menggila ketika Leeteuk menelpon kemarkas Hyunmie belum juga sampai, ketika keputus asaan mulai menyerang, Leeteuk menatap seseorang yang begitu ia cemaskan keberadaannya sejak tadi, sedang bersandar di sebuah tiang lampu jalan, saengnya. Seperti sedang mengatur nafas, tanpa menunggu lebih lama, Leeteuk keluar dari mobil sportnya, berlari menuju kearah Hyunmie.

“Hyunmie gwenchana?” Leeteuk menatap saengnya yang pusat pasif, tapi lebih terkejut lagi dengan tangan saengnya yang sudah di guyur darah segar.
 
“I…ige… ige boya? Siapa yang melukaimu hingga separah ini eoh? jeongmal appo?” ucap Leeteuk panik, Hyunmie hanya berdecak sebal lalu tersenyum kecil, berusaha menunjukan pada oppanya jika ia baik-baik saja.

“Tsk kau cerewet oppa, nan gwenchana… hanya luka kecil, oh iya yesung oppa otte?” ucap Hyunmie mengalihkan pembicaraan, tapi Leeteuk tahu taktik saengnya itu, dengan sebal Leeteuk mencentikan jarinya di kening saeng kesayangannya itu.

“Ck, kau lebih mementingkan orang lain!! lukamu lebih parah dari yesung, lagi pula dia baik-baik saja setelah Ryeowook obati, kajja kita pulang, jinnja!! aku pasti di hajar oleh appa.” Leeteuk nampak menghembuskan nafas lemas, dia pasti akan di hajar habis-habisan oleh appanya, Leeteuk mengeluarkan saputangan putihnya, lalu membalut luka saengnya yang terus menerus mengeluarkan darah. Hyunmie tersenyum lembut, bersyukur memiliki oppa baik seperti Leeteuk.

“Tenang saja aku yang akan jelaskan pada appa, inikan memang bukan salahmu oppa.” Leeteuk kembali menghembuskan nafas lemas, ia hanya mengangguk pasrah, kalaupun memang akan kena amuk ia sudah siap menerimanya. Bagaimanapun saengnya memang terluka karena kelalaiannya.

Sesuai dugaan Leeteuk, sesampainya di rumah Tuan Park Yong Jin marah besar pada Leeteuk, melihat darah segar keluar dari tangan Hyunmie. Hyunmie yang sudah lemah karena banyaknya darah yang keluar akhirnya buka suara.
 
“Appa sudahlah, jangan salahkan Leeteuk oppa. aku yang memintanya untuk mundur. Ini juga karena ada polisi aku jadi lengah, lihat aku juga tidak apa-apakan.” Ucap Hyunmie berusaha membela sang oppa Leeteuk, tuan Park langsung memegang pergelangan tangan Hyunmie, membulatkan matanya kesal pada anak perempuannya.

“Jelas-jelas luka parah, kau bilang tidak apa-apa, kau ini terlalu baik atau bodoh?.” Hyunmie nampak meringis kesakitan, sementara beberapa anak buah Tuan Park hanya bisa menatap Hyunmie miris, pasalnya luka Hyunmie harus cepat di tanganni tapi Tuan Park terus saja mengoceh. Hyunmie menghempaskan tangan appanya kesal, dia paling tidak suka dengan exspresi kasihan yang di tujukan padanya.

“Tsk, sudahlah aku lelah appa.” Gerutu Hyunmie sebal sambil melangkah pergi, tapi sekali lagi Tuan Park menahan tangan anak perempuanya itu, pembicaraan belum selesai.

“Yak!! Park Hyunmie. Appa Belum selesai bicara.” Teriakan tuan Park membuat Hyunmie menutup telinganya sebelah, lalu kembali menghempaskan tangan appanya itu sebal.

“Appa, aku ini sedang terluka, mau di obati dulu, kau tega menceramahi anakmu ini hingga darahnya habis?” seperti menyadari kesalahanya, tuan Park terbatuk salah tingkah.

“Ah ne, mian nanti kita bIcara lagi.” Ucap tuan Park melunak, ia mengibaskan tangannya agar Hyunmie masuk ke kamarnya, dimana Ryeowook sudah menunggunya dengan cemas. Hyunmie akhirnya menghelah nafas lemas sambil menggeleng pelan, ia melangkah gontai kekamarnya, di bantu Leeteuk yang memang sejak tadi tidak berniat menyela pertengkaran Hyunmie dan appanya, karena jika menyela ada kemungkinan akan semakin lama Hyunmie di obati.

Sesampainya di kamar, Hyunmie langsung di baringkan di ranjang, Yesung sendiri sudah di pindahkan keruang tamu, Ryeowook juga ikut membantu membaringkan tubuh Hyunmie di ranjang, secara perlahan Ryeowook membuka ikatan saputangan di lengan Hyunmie, namja mungil itu terkejut luar biasa ketika melihat luka Hyunmie yang begitu parah.

 “Yakk!! ini lebih parah dari dugaanku yeoja bengis, kau ini bodoh atau apa? Kenapa kau biarkan tubuhmu terluka? Kau inikan yeoja!! Kau tahu, luka sedalam ini pasti berbekas.” Ryeowook langsung membentak Hyunmie keras-keras, membuat kesadaran Hyunmie yang mulai meredup kembali, dengan kesal, Hyunmie memukul kepala Ryeowook kuat-kuat, membuat namja imut itu mendelik tidak terima.

“Yak!! Ryeowook oppa, sudah untung aku menyelamatkan Hyungmu lebih dulu, bukannya berterimakasih malah menghinaku, kau cari mati eoh?” tapi Ryeowook seolah tidak memperdulikan protes Hyunmie, namja itu hanya sibuk mengkhawatirkan luka yang menganga di tangan Hyunmie dengan exspresi cemas.

“Jinnja!! lihat tulangmu saja sampai terlihat, normalnya orang biasa mungkin sudah mati sekarang, kenapa kau ceroboh sekali eoh, kau mau melihatku jantungan dan mati berdiri eoh?” kali ini Hyunmie hanya mengerucutkan bibirnya sebal, tidak bisa menjawab atau lebih tepatnya malas menjawab, dia tahu perasaan Ryeowook sekarang ini, tumbuh bersama membuat Hyunmie tahu nada serta exspresi Ryeowook.

“Ck, tidak usah berlebihan, sudah rawat saja lukaku ini, rasanya sudah mulai perih.” Gerutu Hyunmie sambil mulai meringis, Ryeowook memulai pengobatannya, tapi Hyunmie kembali meringis kesakitan. Memprotes cara kerja Ryeowook yang kasar, membuat namja itu kesal sendiri.

“Hyungku saja sampai pingsan dengan luka tadi, tapi kau masih bisa marah-marah seperti ini.” Ucap Ryeowook sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya, Hyunmie kembali mendengus, tentu saja berbeda, Hyunmie bukanlah sorang yeoja yang di lahirkan lemah, darah sang ayah mengalir di tubuhnya.

“Jangan samakan aku denganya, levelku jauh berbeda dengan Yesung oppa sekalipun aku yeoja.” Ucap Hyunmie sambil mengerakan tubuhnya kesana kemari, membuat kerja Ryeowook sedikit terganggu, dengan sebal Ryeowook mengeluarkan cairan biusnya, bukan agar Hyunmie tidak meringis kesakitan, tapi lebih agar yeoja itu diam ketika pengobatan berlangsung.

“Araseo, aku bius dulu.” Belum sempat menjawab, Ryeowook sudah membius Hyunmie dengan obat bius tingkat tinggi, karena obat bius biasa tidak akan mempan pada Hyunmie. Tak lama kemudian Hyunmie tertidur. Ryeowook kembali mengerjakan tugasnya, susah payah merawat dengan peralatan seadanya membuat wajahnya terlihat cemas, yeoja yang sangat di sayanginya ini terluka parah, tapi hanya ini yang bisa dia perbuat untuk yeoja teman masa kecilnya, yang meminta appanya untuk membiayai pendidikanya hingga menjadi seorang Dokter seperti sekarang, dan Ryeowook membantu dan merawat keluarga Park tanpa bayaran sama sekali, karena baginya jika tanpa kelurga ini, dia tidak akan menjadi seorang Dokter seperti sekarang.
 
LEETEUK POV
 
Aku hanya bisa melihat saengku tertidur dengan wajah sangat pucat, aku sungguh menyesali keputusanku meninggalknya sendirian tadi, saengku terlalu baik, bahkan sangat baik, walaupun hobinya memukuli orang, tapi kebaikanya itu yang membuat semua orang yang mengenalnya walaupun sebentar akan sangat sayang sekali padanya. Saengku memiliki ilmu beladiri di atasku dan begitu di sayangi appaku, dia juga baru pulang dari New york seminggu yang lalu, karena eomma juga meninggal sebulan yang lalu disana, Hyunmie kesepian jadi dia memilih kembali ke Korea.

Appaku seorang ketua mafia Asia yang terkenal, tapi orang lebih mengetahui appa sebagai direktur properti dan barang-barang antik yang di kirim ke berbagi negara di Eropa atau Asia tenggara, salah satunya adalah Thailand, tapi karena demi keselamatan eomma dan Hyunmie, mereka di kirim ke Newyork, berharap bisa hidup tenang dan normal, tapi karena darah appa yang kuat membuat Hyunmie justru di hormati oleh geng-geng di Amerika, sudah pasti karena kekuatnnya yang luar biasa untuk ukuran yeoja, dan sebenarnya ada satu lagi yang membuat Hyunmie di kirim ke Newyork.

Alasan non logis, tapi aku juga melihatnya dengan mata kepalaku sendiri saat dia kecil selalu tiba-tiba menangis dan secara mendadak tubuhnya mengalami lebam dimana-mana, rahasia besar yang kusimpan rapat-rapat dan berusaha melindungi saengku dari jauh.
 
LEETEUK POV END
 
Masih dimalam yang sama di tempat yang berbeda, seorang polisi nampak mengerang kesakitan menekan lenganya kuat-kuat, padahal sejak perjamuan berlangsung dia tidak merasakan apapun, perjamuan yang anggota kepolisian lakukan sebagai sambutan untuknya yang bergabung dengan kepolisian Korea, karena sebelumnya ia adalah polisi Jepang.

“Donghae gwenchana?” Seorang namja yang mejadi Hyung dari polisi bernama Donghae nampak cemas menatap saengnya yang mengerang kesakitan, anggota kepolisian yang lainpun ikut cemas dengan perubahan raut wajah inspektur baru mereka.

“Molla hyung, sejak tadi tanganku sakit sekali.” Kali ini hanya sebuah gumaman kecil yang bisa Donghae keluarkan, sepertinya .tenaganya terkuras habis untuk menahan sakit. Hyung Donghae, Eunhyuk dengan perlahan menyingkap baju kemeja Donghae, memastikan lengan saengnya baik-baik saja, tapi dengan jelas sebuah luka melintang berwarna merah begitu jelas di tangan Donghae, walaupun tidak berdarah, Eunhyuh tahu ini pasti sakit, melihat reaksi Donghae ketika Eunhyuk bermaksud menyentuhnya.

“Ige mwoya? kenapa dengan tanganmu?” Eunhyuk bertanya dengan panik, seolah melupakan fakta jika sejak tadi saengnya itu selalu bersamanya.

“Molla hyung, ahh jeongmal appo.” Sekali lagi Donghae meringis kesakitan, Eunhyuk kembali menghelah nafas cemas, ia benar-benar menyesali keputusannya yang menyetujui kembalinya Donghae ke Korea, karena selalu saja seperti ini.

“Ck, lagi-lagi begini kalau kau pulang ke Korea.” Eunhyuk bergumam frustasi, tapi Donghae masih bisa mendengarnya, dengan sedikit rasa bersalah Donghae menatap anggota kepolisisan lain tidak enak hati.

“Hyung aku ingin pulang sekarang jebal.” Setelah memikirkanya, Donghae akhirnya memilih pulang, keringat dingin keluar dari pelipis Donghae, membuat Eunhyuk semakin tidak tega, dengan berat hati meninggalkan sahabat-sahabatnya, untuk mengantar Donghae pulang. Donghae lalu pulang bersama Eunhyuk ke aprtmen mereka.

Dengan telaten Eunhyuk berusaha mengobati saengnya itu, hanya dengan di kompres, karena ini bukanlah sakit yang di buat oleh saengnya ataupun orang lain, Eunhyuk bisa memprediksi apa yang tengah terjadi, tapi ia memilih bungkam.
 
“Otte? apa sudah tidak sakit lagi?” pertanyaan Eunhyuk membuat Donghae yang sejak tadi melamun tertegun lalu mengangguk kecil, ada sesuatu yang mengganggu .pikirannya.

“Ah sedikit hyung, tidak terlalu sakit seperti tadi.” Eunhyuk tersenyum lega, sepertinya tidak sia-sia apa yang ia lakukan, walaupun hanya sedikit, setidaknya hanya ini yang bisa Eunhyuk lakukan untuk Dongsaeng kesayangannya.
 
“Hyung sudah bilangkan agar kau tidak perlu kembali ke Korea, di sini tIdak baik untumu.” Eunhyuk memulai pembicaraan seriusnya yang sempat terpotong tadi siang, ketika dengan tiba-tibanya Donghae muncul di kantor polisi dan memberitahukan bahwa sekarang dia adalah inspektur baru untuk kepolisian Seoul.

“Ara, keunde itukan sudah lama sekali hyung, aku kira sudah berhenti, jadi aku pulang saja, aku juga rindu pada eomma dan kau hyung. Tinggal bersama orang lain itu tidak begitu nyaman.” Sekali lagi Eunhyuk menghelah nafas gusar, saengnya ini sangat susah sekali di beritahu.

“Tsk, tapi kau lihatkan apa akibatnya jika kau terus di Korea, ini hari pertamamu, tapi kau sudah mengalami luka tidak jelas di lenganmu, setidaknya jika kau merindukanku ataupun eomma kau bisa ambil cutikan dari kepolisian Jepang? Bukannya mutasi ke Korea, kau tahukan ini sangat beresiko untukmu.” Donghae hanya bisa tersenyum kecil, melihat kekhawatiran Hyungnya itu, walaupun Donghae sama cemasnya, namja itu berusaha menutupinya, meyakinkan Hyungnya itu jika semua ini hanya kebetulan semata.
“Sudahlah Hyung, semua ini mungkin hanya kebetulan saja, aku ini bukan anak kecil lagi yang harus kau cemaskan berlebihan.” Sekali ini Eunhyuk memukul kepala saengnya itu geram, kenapa sulit sekali memberitahukan keadaan pada saengnya ini.

“Agrh appo hyung.”

“Itu karena kau keras kepala, Hyungmu ini sangat cemas, kau tahukan bagaimana sedihnya eomma ketika kehilangan appa, dia tidak ingin kehilangan putra kesayanganya.” Donghae hanya mengelus kepalnya pelan, berharap denyut di kepalanya menghilang, sakit di lengannya saja belum hilang, Eunhyuk malah menambahnya.

“Ara, aku jamin tidak akan terulang lagi.” Gerutu Donghae sebal, Eunhyuk hanya menggeleng sebal, dari mana saengnya ini begitu yakin jika hal ini tidak akan terulang, luka hari ini saja sama sekali tidak bisa di prediksi.

“Dasar keras kepala.”

***

  Di tempat lain Kyuhyun berjalan dengan terhuyung-huyung menuju markas atau lebih tepatnya rumahnya dan Kangin, Jantungnya semakin lemah ketika ia tetap memaksakan diri berjalan, sampai di rumah Kyuhyun langsung dI sambut oleh seorang Dokter muda, dokter yang menjadi tenaga medis kepercayaan untuk merawat Kyuhyun, Choi Siwon. Dokter muda itu cukup terkejut melihat kondisi Kyuhyun, padahal sebelumnya ia sudah mengingatkan pada Kangin agar Kyuhyun tidak melakukan aktivitas yang menguras banyak tenaga, Siwon menatap Kangin tajam, membuat Kangin mendelik tidak terima.
 
“Aku sudah bilang kau tidak perlu ikut dalam pertarungan, hanya mengumpulkan anak-anak saja, lihat keadaanmu semakin memburuk.” Kangin mulai mengeluarkan semua rasa cemasnya, ia sempat merasa bersalah karena meminta berpencar di saat saengnya sedang sakit parah. Siwon hanya menghelah nafas lemas, sepertinya ia tahu siapa yang keras kepala di sini.

“Sudahlah Kangin_ssi, dia hanya ingin membantu hyungnya.” Tegur Siwon merasa ucapan Kangin semakin memojokan Kyuhyun yang hampir tidak sadarkan diri.

“Tapi Siwon, kau tahu sendirikan, jantungnya semakin hari semakin lemah, aku hanya tidak mau terjadi sesuatu padanya, dia saeng satu-satunya yang aku miliki, kau saja jadi menyalahkankukan?” Kangin kembali berteriak cukup keras membuat Siwon menggeleng tak percaya.

“Mianahae hyung, nan gwenchana. Siwon_ssi tolong obati aku.” Gumam Kyuhyun pelan membuat Kangin dan Siwon yang siap kembali memulai perdebatannya memandang Kyuhyun tidak percaya.

“Ah ne kyuhyun, aku buka ikatan di kepalamu, sepertinya pelipismu itu terluka.” Siwon menatap kening Kyuhyun yang di balut sebuah pengikat kepala, ia bermaksud membukanya, tapi dengan cepat Kyuhyun sendiri yang membukanya lalu memasukannya kedalam saku celanannya.

“Biar aku yang buka.”

“Kenapa kau masukkan kedalam saku? kain itu sudah penuh darahkan?” mendengar pertanyaan tersebut Kyuhyun nampak terlihat salah tingkah, jika bukan karena wajahnya yang pucat, mungkin wajahnya akan terlihat menyembunyikan sesuatu.

“Aku hanya ingin menyimpanya saja, sudahlah kau obati saja aku.” Ucap Kyuhyun semakin pelan, membuat Siwon tidak melanjutkan pertanyaannya, karena kondisi Kyuhyun sudah tidak memungkinkan lagi untuk di ajak berbicara.

“Ah baiklah.” Ucap Siwon sambil mulai pemeriksaanya pada Kyuhyun.

“Aku akan memberhentikanmu dari aktivitas geng kita.” Ucap Kangin tegas, membuat Kyuhyun kembali membuka matanya, setelah perlahan rasa kantuk datang karena obat bius yang Siwon suntikan padanya.

“Keunde Kangin hyung.” Kangin nampak berkacak pinggang, mendelik kesal pada saengnya itu.

“Jangan membantah.” Geram Kangin tertahan. Kyuhyun hanya bisa menghelah nafas pelan, perlahan matanya kembali tertutup, rasanya benar-benar mengantuk. Semenjak itu Kyuhyun selalu mengikuti Hyunmie kemanapun Hyunmie pergi, kebaikan yeoja ini membuat dia penasaran dengan siapa jantung ini yang semakin lemah detaknya menjadi cepat jika di dekat yeoja bernama Hyunmie ini.
 
 
 
2 month ago
 
Keringat dingin semakin bercucuran dikening yeoja itu, beberapa kali ia meremas seprainya kuat-kuat, ketika apa yang ada di dalam mimpinya seolah nyata ia rasakan di tubuhnya. Bukan dia yang mendapatkan penyiksaan, tapi tubuhnya merasakan betul siksaan tersebut. Sakit, rasanya sangat sakit.

“Andwe appa jangan siksa dia lagi jebal.” Seorang putri berpakaian hanbok memohon pada ayahhandanya, ketika dengan mata kepala sendiri, kekasihnya di cambuk berulang-ulang, bukan tanpa alasan putri cantik itu meminta. Tapi raja dari dinasti Silla itu seolah tidak peduli dengan rintihan Putrinya, Ayahhandanya itu malah mengajukan pilihan pada putrinya.

“Kalau begitu jauhi dia, dengar dia Pangeran dari joseon, sedangkan kau Putri dari Shilla, jika tidak aku akan membunuhnya sekarang juga.” Putri itu nampak menatap kekasihnya nanar, wajah kekasihnya sangat pucat begitupun dengan wajahnya, Putri itu menatap sang ayah tajam, perlahan tapi pasti Putri itu membuka pakaian luarnya di hadapan banyak orang, membuat para penjaga memalingkan tatapannya dari sang putri, sang Rajapun menahan nafas atas perbuatan memalukannya di hadapan banyak orang.

“Kalau appa membunuhnya, berarti appa juga membunuhku, lihat ini appa.” Teriak sang Putri yang sudah menyisakan pakaian dalamnya yang hanya memerlihatkan samar-samar bekas cambukan yang entah berasal dari mana datangnya.

“Lihat appa garis-garis di tubuhku ini sama dengan cambukan yang appa berikan padanya.” Sang raja hanya tertegun menatap luka di tubuh Putrinya itu.
 
Seolah sedang berusaha bangun dari mimpi buruknya, akhirnya Hyunmie terbangun dari mimpi panjang yang mnyeramkan itu, Hyunmie langsung meringis ketika ia rasakan rasa perih di punggungnyaa. Dan lagi-lagi Leeteuk sudah ada di sampingnya ketika bangun, oppanya itu menatap cemas wajahnya yang pucat.

“Hyunmie kau sudah bangun? kenapa dengan wajahmu pucat sekali? kau mimpi buruk lagi?” Hyunmie hanya membalas pertanyaan Leeteuk dengan mengangguk, sepertinya rasa sakit di punggungnya membuat Hyunmie masih sulit membuka suaranya. Hyunmie langsung melirik segelas air putih di nakas, dengan bantuan Leeteuk Hyunmie meminum air itu hingga tandas, setelah merasa cukup tenang Hyunmie mulai buka suara.

“Mimpi itu sama oppa, semenjak kejadian aku di bacok oleh Kangin, mimpi itu datang lagi dan kali ini cambukan itu seperti nyata sakitnya.” Ucap Hyunmie yang kembali meringis ngilu memegang punggungnya sendiri, Leeteuk hanya bisa menatap nanar wajah saengnya.

“Apa sebaiknya kau kembali ke Newyork saja? oppa tidak mau terjadi sesuatu yang aneh denganmu.” Ucapan Leeteuk kembali di balas gelenggan dari Hyunmie, kali ini lebih kuat dari tadi, keyakinannya semakin kuat, jika ada yang tidak beres dengannya.

“Shirro oppa, aku ingin disini, aku juga ingin mencari tahu sebenarnya ada apa? dan siapa yeoja di mimpiku itu.” Ucap Hyunmie keras kepala, membuat Leeteuk kembali menghelah nafas gusar.

“Itu hanya mimpi biasa.” Ucap Leeteuk berusaha untuk tenang.

 “Tidak mungkin oppa, jika itu hanya mimpi biasa kenapa berturut-turut, dan ini sudah yang ke lima belaskalinya aku mimpi yang sama.” Leeteuk tertunduk tak tahu harus berkata apa lagi pada saengnya yang mulai curiga dengan setiap mimpi buruknya belakangan ini. Melihat gelagat oppanya yang mencurigakan Hyunmie menatap oppanya curiga.

“Waeyo? oppa tahu sesuatu?” pertanyaan Hyunmie sukses membuat Leeteuk kembali menatap Hyunmie lalu menggeleng pelan.

“Ah anniya, oh iya apa lukamu masih sakit?” ucap Leeteuk berusaha mengalihkan arah pembicaraannya.

“Anniya oppa sudah kering, oppa jangan khawatir soal ini, oh iya oppa bisa panggilkan Ryeowook oppa? obatku habis.” Leeteuk kembali tersenyum, sepertinya saengnya benar-benar teralihkan pikirannya.

“Baiklah, aku akan telpon dia sekarang juga.” Ucap Leeteuk sambil mengelus pelan kepala Hyunmie, membuat Hyunmie mulai memasang wajah manjanya.

“Oppa lapar…” Leeteuk terkekeh geli menatap perubahan wajah saengnya itu, lalu memeluk pelan saengnya.

 “Aigooo, saeng oppa lapar? baiklah kau cuci muka dulu. Hanggeng sudah memasakan nasi goreng bejing kesukanmu.” Hyunmie langsung membulatkan matanya berbinar, ketika mendengar nama Hangeng di sebut.

“Gege oppa? sejak kapan dia datang? ahhh jeongmal bogo shippo.” Ucap Hyunmie semakin gembira.

“Tadi malam, bahkan dia sempat kekamarmu, oppa kira dia membangunkanmu, kalau begitu palli.” Hyunmie mengannguk senang lalu mulai mendorong Leeteuk keluar dari kamarnya.

“Aku nanti menyusul ke meja makan.” Ucap Hyunmie sambil kembali menutup pintu kamarnya, membuat Leeteuk menggeleng pelan.

 
Tak lama kemudian Hyunmie turun dan langsung memeluk Hanggeng dari belakang saat sedang memasak, namja asal Bejing itu hanya tersenyum kecil ketika melihat siapa yang memeluknya.
 
“Oppa bogo shippo…” Gumam Hyunmie pelan, sekali lagi Hangeng hanya tersenyum kecil, membuat Hyunmie merengut kecil.

“Oppa kenapa tidak bangunkan aku kalau kau sudah sampai tadi malam?” Kali ini Hangeng mematikan kompor lalu berbalik menatap Hyunmie lembut, menangkup wajah mungil itu lembut.

“Aku hanya tidak ingin membangunkanmu saja, kau terlihat kurang sehat…” Hangeng nampak mengacak sayang rambut Hyunmie, ketika yeoja itu masih mempoutkan bibirnya tidak terima. Leeteuk hanya tersenyum kecil melihat keakraban keduanya, hanya pada Hangenglah Hyunmie mau bermanja ria, walaupun akhirnya sering membuat Heechul kesal sebagai Hyung angkat Hangeng.

“Tsk, kalian ini seperti sepasang kekasih saja, di dapurkan bukan hanya ada kalian saja.” Goda Leeteuk yang hanya mendapat juluran lidah dari Hyunmie. Hangeng hanya tersenyum kecil, lalu memeluk Hyunmie kembali.

 
“Gege memang kekasihku ko, iyakan oppa?” Hangeng semakin tersenyum lebar, ketika yeoja dalam dekapanya ini ingin mengimbangi keisengan oppanya. Dan Hangeng membantunya dengan memeluk Hyunmie semakin erat. Tapi sebuah ide jahil melintas di otaknya.

“Gege tidak akan mau pada yeoja beringasan sepertimu.” Ucap Hangeng pelan tapi sukses membuat Leeteuk tertawa lepas, membuat Hyunmie melepas pelukannya dari Hangeng, mempoutkan bibirnya sebal, membuat Hangeng gemas bukan kepalang. Sebal dengan Leeteuk yang tidak berhenti menertawakannya Hyunmie memegang spatula di wajan siap memukulkannya pada Leeteuk.

“YaaaaK opppa…” peringatan Hyunmie seolah Leeteuk abaikan.

“Waeyo?” hyunmie lalu melemparkan spatula ke arah Leeteuk dan tepat sasaran, membuat Leeteuk mengerang kesakitan, Hangeng hanya menahan tawanya melihat Leeteuk yang sudah ia anggap Hyungnya itu kesakitan, sementara Hyunmie sudah tertawa senang.

 “Yaaaa appo…”

“Oppa menyebalkan jadi rasakan saja akibatnya.” Hangeng hanya menggelengkan kepalanya pusing lalu menggiring Hyunmie untuk duduk.

“Sudah lebih baik kau duduk sana masakanku hampir selesai.” Hyunmie dan Leeteuk hanya menurut lalu duduk dengan exspresi yang tadi. Hanggeng lalu kembali tersenyum pada Hyunmie ketika Hyunmie kembali memeluknya lalu memberikan senyuman yang membuat hati Hangeng selalu tenang.

“Gege gomawo sudah kembali…” Gumam Hyunmie pelan, tapi masih sanggup Hangeng dengar.

“Ne, ceonmanyeo…” guman Hangeng sambil memberi pelukan terbaiknya, Leeteuk lagi-lagi tersenyum kecil, walaupun ia oppanya, selama ini Hangenglah yang selalu ada di dekat Hyunmie, Leeteuk dan Hyunmie hanya kompak ketika mengurus organisasi mereka Red Angel, tapi Leeteuk tidak pernah merasa iri pada Hangeng, terlebih insiden di LA dulu, saat Hyunmie dengan tenaganya yang tersisa menyelamatkannya dari kematian, saat itulah ia melihat saengnya menangis meraung, takut jika oppa kandungnya itu pergi untuk selamanya. Membuat Leeteuk yakin saengnya mencintainya lebih pada siapapun, karena Hyunmie bukanlah yeoja yang gampang mengeluarkan air mata.
 
***

Sepertinya pagi itu cukup menyenangkan untuk Hyunmie, walaupun mimpi semalam masih mengganggu pikirannya, Hyunmie berusaha untuk tidak memikirkannya seperti saran Leeteuk, Hyunmie juga tahu oppanya tetap tidak mau membahas mimpinya itu, mau tidak mau dia sendiri yang harus mencari tahu.

“Yak!! Hyunmie sedang apa kau? Beraninya kau berpelukan dengan gege seperti itu.” Lagi-lagi Leeteuk hanya tersenyum kecil, ketika Ryeowook berkacak pinggang menatap Hyunmie yang masih berpelukan dengan Hangeng, Hyunmie sendiri hanya tersenyum kecil melihat sahabat kecilnya itu datang.

“Ryeowook oppa kau sudah datang?” merasa Hyunmie mengabaikannya, Ryeowook lalu menarik tangan Hyunmie melepas pelukan Hangeng dan Hyunmie, membuat pria Bejing itu mendengus tak suka. Ryeowook lalu mendudukan Hyunmie di kursi tamu, ia sendiri berjongkok di hadapan Hyunmie dan mulai mengeluarkan alat medisnya.

 
“Aku akan mengganti perbanmu, Leeteuk hyung bilang obatmu habis?” Hyunmie hanya mengangguk pelan, ia tahu Ryeowook sedang kesal, terbukti dari wajah Ryeowook yang terlihat serius, namja itu hanya akan menampakan wajah seriusnya ketika marah. Hyunmie tidak ingin memperburuk moodnya hari ini.

Setelah selesai mengganti perban di lengan Hyunmie, Ryeowook memberikan resep baru pada Hyunmie, suasana masih terasa canggung dan Hyunmie tidak suka itu, ketika Ryeowook bermaksud pergi dari ruang tamu, Hyunmie menahan pergelangan tangannya.

“Oppa… apa kau marah padaku?” Ryeowook nampak menarik nafas dalam-dalam, berusaha menormalkan gejolak amarahnya, ketika bayang-bayang Hyunmie berpelukan bersama Hangeng berputar di otaknya.

“Gwenchanayo… hanya sedikit bandmood saja hari ini, aku harus bertemu dengan Leeteuk hyung dulu.” Ucap Ryeowook sambil berusaha tersenyum lalu mengelus kepala Hyunmie lembut, perlahan Ryeowook melangkah keruang makan meninggalkan Hyunmie yang masih terdiam, sepertinya Ryeowook sedang tidak ingin bicara dengannya. Hyunmiepun kembali keruang makan. Tapi sudah tidak ada siapapun disana, sepertinya Hangeng, Ryeowook dan Leeteuk sedang berdiskusi di ruang kerja oppanya. Akhirnya Hyunmie makan seorang diri, padahal moodnya membaik tadi, tapi sekarang down kembali.

“Saeng kita bertiga ke harus ke galeri appa sekarang, tak apakan kau di tinggal sendiri?” Lamunan Hyunmie buyar ketika Leeteuk menepuk bahunya, Hangeng dan Ryeowook juga sudah ada di hadapannya sambil tersenyum, Hyunmie hanya bisa mengangguk pelan, lagi pula dia uga akan menyusul.

“Ne, aku juga akan ke galeri siang ini, melihat barang dari Thailand yang baru saja datang tadi malam” ucap Hyunmie sambil kembali menyuapkan nasi goreng Bejiing yang Hangeng buat tadi tanpa melihat ketiganya, ketiganya saling berpandangan, sepertinya mereka bertiga merusak mood tuan putri mereka pagi ini.

Tidak ingin merusak mood Hyunmie semakin parah, ketiganya langsung bergegas berangkat menuju Galeri Park Yong Jin, sebenarnya galeri itu lebih pantas di sebut sebagai penyimpanan barang mentah narkotika terbesar di Asia, terlebih jenis sabu-sabu yang dengan mudah di modifikasi bentuknya. Tapi Yong Jin tidak ingin namanya buruk di negara sendiri, terlebih dia tidak mengedarkan narkoba di Korea, tapi di pasar Eropa. Hyunmie sendiri setelah menghabisakan sarapannya langsung bergegas menuju galeri appanya, ia harus membantu oppanya untuk mengamankan barang mentah dari Thailand serta membantu transaksi dengan pembeli nanti sore.

 
Hyunmie mulai berkeliling di galeri appanya, galeri ini memang penuh dengan barang antik, dari mulai lukisan, patung dan masih banyak lagi barang bersejarah lainnya, walaupun tidak bisa di pungkiri banyak barang mentah narkotika yang bersanding dengan benda-benda bersejarah itu, Hyunmie sendiri tipe yeoja yang sangat menyukai barang-barang bersejarah, terutama pedang dan tombak, tak jarang di rumah keluarga Park banyak sekali di temukan pedang dan tombak sebagai hiasan. Ketika sedang asyik menikmati lukisan dari dinasti Goguryu, sebuah tangan menepuk bahu Hyunmie pelan, membuat Hyunmie berbalik, matanya membulat sempurna ketika orang yang ia kenal tapi menghilang tanpa kabar, ada di depan matanya.

“Ommo, Sungmin oppa? sedang apa disini? bukanya kau ada di Sydney?” ucap Hyunmie senang, membuat namja bernama Sungmin itu tersenyum senang karena yeoja di hadapannya masih mengingatnya.

“Aku baru pulang kemarin? kau sendiri sedang apa disini? yang ku tahu kau bukan yeoja yang suka barang antik?” Hyunmie hanya tersenyum kecil, wajar jika Sungmin tidak tahu tentang kegemaranya, karena ia baru menyukai barang-barang antik ini beberapa tahun yang lalu.

“Ah oppa saja yang tidak tahu, aku sangat menyukai barang-barang antik ini.” Sekali lagi Sungmin di buat berbinar dengan fakta yang ada pada Hyunmie, setelah dengan senangnya Hyunmie ada di hadapannya, Sungmin semakin senang karena yeoja yang ia sukai memiliki persamaan dengnnya, tapi Sungmin kembali cemas, apa yeoja di hadapannya hanya akan sementara di Korea, atau akan menentap.

“Jinjja? tapi bukannya kau sedang di Amerika?” tanya Sungmin sedikit mengadu peruntunganya pada gadis di hadapannya.

“Seperti yang oppa lihat aku sudah pulang 1 bulan yang lalu ke Korea, dan aku berencana menetap disini”

“Chotha, kalau begitu aku bisa sering bertemu denganmu.” Ucap Sungmin semakin senang hati.

“Sepertinya begitu oppa, oh iya oppa bekerja di sini?” pertannyaaan Hyunmie langsung di balas anngukan mantap dari Sungmin.

“Binggo, aku memang di angkat sebagai peneliti barang antik di sini, karena barang palsu sering bertebaran.” Ucap Sungmin bangga. Hyunmie nampak mengannguk paham, seperti mengingat sesuatu, Hyunmie menjentikan jarinya lalu memukul keningnya pelan.

“Kebetulan barang dari Thailand baru datang, kita lihat bersama-sama saja oppa.” Sungmin nampak menegrutkan keningnya binggung.

“Ommo dari mana kau tahu?” Hyunmie hanya tersenyum manis, lagi-lagi ia lupa memberitahukan Sungmin perihal appanya yang menjadi pemilik dari galeri ini.

“Ini sebenarnya galeri appaku.” Kali ini Sungmin membulatkan matanya tak percaya.

“Ji… jinjja?” Hyunmie hanya tersenyum kecil melihat reaksi Sungmin yang terkejut, senyuman yang Sungmin rindukan. Tanpa keduanya sadari di tempat lain tidak jauh dari sana, Kyuhyun mengeretakan giginya geram, karena baru saja dia ingin mendekati Hyunmie, namja bernama Sungmin mendekatinya.
 
“Menyebalkan, kenapa banyak sekali namja manis yang mendekati Hyunmie?…”
 
Di gudang Sungmin dan Hyunmie mulai memeriksa barang antik dengan pekerja lain, Hyunmie lalu memberi kode pada seorang pekerja untuk membawa sebuah guci keluar dari gudang. Setelah yakin barang yang ia cari aman, Hyunmie kembali mengedarkan pandangannya pada barang antik lainnya, jika tadi barang antik itu untuk kepentingan organisasi, kali ini Hyunmie mencari barang antik lainnya untuk di koleksi.
Matanya tertuju pada sepasang kalung dari dinasti Shilla, saking lekatnya ketika Sungmin menegurnya, Hyunmie tidak menyadari sama sekali. Merasa tidak ada respon, Sungmin menepuk bahu Hyunmie pelan, membuat Hyunmie terlonjak kaget.

“Hyunmie_ya…”

“Ah ne? ah mianahae waeyo tadi oppa bilang apa?” ucap Hyunmie binggung. Sungmin hanya mengeleng pelan.

“Sebenarnya kau sendang memperhatikan apa? Aku memanggilmu tapi tidak kau respon sama sekali.” Hyunmie hanya mengusap tengkuknya sambil tersenyum kaku, matanya kembali menatap sepasang kalung dari dinasti Shilla.

“Mian oppa, ini aku hanya tertarik saja pada kedua kalung dari dinasti Shilla ini, apa boleh aku mengambilnya?” Sungmin nampak memperhatikan kedua kalung tersebut lalu tersenyum kecil.

“Inikan galeri appamu, jadi itu terserah padamu saja, tapi kau harus mengatakan hal ini pada appamu ara? kenpa kau begitu tertarik dengan perhiasan seperti ini?kau tidak mungkin memakainyakan?” Hyunmie kembali tersenyum kecil lalu menggeleng pelan.

“Anniya, hanya ingin memilikinya saja, ah oppa mianhae sepertinya aku harus keluar dulu, gomawo untuk kalungnya.” Baru saja Hyunmie akan melangkah, Sungmin menggenggam tangan Hyunmie lembut.

“Waeyo? apa karena yang kau inginkan sudah kau dapatkan dan langsung pergi meninggalkanku?” tanya Sungmin sendu, membuat Hyunmie kembali tersenyum kecil.

“Mianhe oppa, aku masih ada urusan, nanti aku hubungi oppa lagi, annyeong.” Ucap Hyunmie sambil melepas genggaman Sungmin pelan lalu meninggalkan Sungmin yang hanya bisa menghelah nafas lemas.
 
Hyunmie sedikit tergesa-gesa bermaksud keluar gudang tapi baru saja keluar dari gudang sebuah tangan menariknya dan mendorongnya ke tembok, sedikit tersembunyi dari ruang terbuka. Hyunmie cukup terkejut, tapi yang membuatnya terkejut adalah orang yang menarik tangannya adalah orang yang ia kenal. Walaupun pertemuan diantar keduanya sangat singkat. Cho Kyuhyun.

Tinggalkan komentar

3 Komentar

  1. sedikit typho…
    banmood seharusnya badmood…

    Balas
  2. Jiscarine

     /  Februari 24, 2014

    Itu belom ending kan eon? Katanya oneshoot (” )

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: