FF SERIES//Imposible//part 1

possible_impossible_by_msChilli

Autor:yuni japanes kireina aka park hyunmie aka istri dunia akhirat cho kyuhyun

Tittel:FF SERIES//Imposible//part 1

CAST:temukan sendiri

gender:romantis

leght:chapter

ost:why i did falling in love with you DBSK

rating: PG 15

Annyeong ketemu lagi dengan autor gaje hehehe mungkin sebagian udah baca di FB tapi kalau di FB udah 5 part di blog autor jadiin 1 part aja oky kali ini serombongan nama autor nangkring di FF ini mudah-mudahan suka.

story begening

Seorang yeoja dengan wajah berseri-seri melompat kegirangan. Di tangannya sudah terdapat selembar kertas hasil jerih payahnya hampir 2 tahun terakhir bergelut dengan tebalnya buku-buku. Sahabat yeoja itu juga turut senang dengan hasil yang sahabatnya peroleh, walaupun sedikit terlambat tapi bukankah mencari ilmu tidak melihat faktor umur? Kenyataan umur seorang gadis bernama Tri yunida itu sudah berumur 20 tahun, tapi semangatnya untuk bisa kuliah patut di acungi jempol. Selama dua tahun Tri yunida atau sahabatnya memanggilnya Yuni tidak pernah putus harapan ketika dua kali gagal meraih beasiswa di universitas di bandung, Yuni tidak pernah berhenti berusaha dan tekun dengan buku-buku tebal sepulang bekerja. Dan hasilnya sekarang jauh dari perkiraan, sebuah Universitas di Brunai Darussalam bersedia membiayai kuliahnya di negeri Gingseng Korea Selatan dengan catatan setelah lulus Yuni harus bekerja di perusahaan Brunai.

“Wah chukkae chingu, see kerja kerasmu tidak sia-siakan.” ucap Reva sahabat Yuni.

“ck ini masih di indonesia madam jangan pake bahasa korea segala.” celetuk Yuni pada sahabatnya sedikit mencibir. Reva hanya mencubit pinggang sahabatnya itu sebal.

“nantikan kamu pake bahasa itu Yun.” ucap Reva sengit.

“iya sih tapi aku pengen puas-puasin dulu pake bahasa indonesia.”

“kan biar terbiasa chagi.” ucap Reva sambil menyenggol pinggang Yuni. Yuni hanya berdecak sambil menggelengkan kepala tapi tidak lama tersenyum. Tetap tidak bisa menutupi kebahagiaannya mendapatkan beasiswa ke Korea.

“Pasti nanti kamu bakal ketemu BB kesukaanmu Yuni.” ucap Reva sedikit iri.

“Ais jangan mengkhayal ketinggian dulu, pikiranku sekarang apa aku kuat dengan cuaca Korea yang dingin itu.” ucap Yuni menerawang mengingat Yuni tidak kuat dingin.

“Pasti kuat Yuni. Ingat kamu bukannya ingin membahagiakan mamah dan adik-adikmu?” Ucapan Reva membuat Yuni kembali bersemangat dan memeluk temannya itu erat-erat.

“Aku pasti akan merindukanmu bundo. Oh iya teleponkan mahal, kita komunikasi lewat FB saja ea.” ucap Yuni sambil cengegesan.

“Ck perhitungan. Iya aku tunggu WTW darimu.” ucap Reva sambil kembali berjalan bersama Yuni mempersiapkan semuanya tentu.

***

Yuni menatap gedung apartmen di hadapannya, sesekali menggosokan tangan kedinginan.

“Huh benar dugaanku Korea dingin sekali.” gumam Yuni sambil menggerek kopernya masuk ke gedung apartmen yang menjadi tempat tinggalnya nanti selama kuliah di Korea dan semua fasilitas semua di biayai dari Brunai. Seandainya Indonesia juga begitu berani membiayai para remaja berkualitas untuk kuliah mungkin Indonesia tidak separah sekarang.

Yuni sedikit nyaman ketika masuk ke gedung apartmen yang bersuhu hangat. Tapi tetap saja masih dingin dan Yuni harus beradaptasi dari sekarang sepertinya.

Saat masuk life tiba-tiba segerombolan orang bermasker masuk berbarengan dengan Yuni cukup membuat Yuni risih. Dengan cepat Yuni memilih di depan tombol life karena postur tubuhnya yang kecil dan bisa tenggelam kalau diam di belakang.

Yuni menekan angka 10 sedangkan yang lain menekan angka 11 dan 12. Sesaat orang-orang itu menatap Yuni curiga membuat Yuni semakin risih apa lagi bisa di pastikan orang-orang itu pria semua.

Yuni mendesah lega ketika keluar dari life dan mendengus kesal karena di perhatikan terus.

“apa ada yang salah denganku? Mereka menatapku seperti penjahat.” rutuk Yuni sambil mulai mengetuk sebuah kamar yang akan menjadi tempat dia tinggalnya selama di Korea.

“Nuguseyo?” tiba-tiba terdengar suara dari intercom.

“nega Tri Yunida imnida mahasiswa asal Indonesia.” ucap Yuni pelan dan tidak lama seorang yeoja cantik dan beberapa lainnya terlihat menatap Yuni senang.

Yuni di persilahkan masuk dan duduk di sofa, Yuni memang bukan tinggal sendiri di apartmen itu tapi ada mahasiswa lain yang juga mendapat beasiswa dari brunai.

“annyeong nega xian hua mei imnida aku asal china bejing.” ucap seorang yeoja berpenampilan feminim memperkenalkan diri di susul yang lainnya.

“nega yumi fujiwara imnida asal jepang osaka.” ucap seorang yeoja berpakaian sedikit chaildis.

“nega kim hagi imnida asal korea mokpo.” ucap seorang yeoja berpakaian tomboy.

Dan terakhir sedikit halus dan tenang berpakaian casual memperkenalkan diri.

“nega park hyunmie imnida asal busan korea, kau bisa memanggil kami eonni dan selamat datang.” Yuni hanya mengangguk dan tersenyum seramah mungkin, dalam hati Yuni senang karena dia magnae ternyata. Sempat berpikir paling tua, ternyata malah yang paling muda.

“Ne annyeong eonnideul nega Tri yunida imnida asal Indonesia tepatnya di Bandung.” ucap Yuni sedikit gugup dan kagum juga karena 4 yeoja di hadapannya sangat cantik dan kental aksen asia timur.

“Yuni_shi tidak perlu gugup relax saja. Oh iya kau satu kamar dengan Hyunmie eonni.” ucap Yumi pada Yuni melihat kegugupan dari wajah Yuni.

“Ne gomapsemnida Yumi eonni.” ucap Yuni gugup membuat semua tersenyum.

“tidak perlu seformal itu kita akan tinggal bersama cukup lama jadi biasa saja ne.” ucap Hagi tegas.

Malam itu menjadi malam pertama untuk Yuni tinggal di Seoul, seharusnya itu menjadi moment yang menyenangkan untuk Yuni tapi cuaca Seoul yang sangat dingin membuat Yuni lebih memilih menggulung tubuhnya dengan selimut tebal yang ia pinjam dari Hyunmie. Ke 4 yeoja cantik itu hanya mendesah lemas, acara yang sudah mereka rancang terpaksa gagal karena Yuni malah terserang demam setelah beberapa jam sampai di apartmen.

“Kau ini aneh, sudah tau tidak kuat dingin kenapa memilih beasiswa ke korea.” ucap Hyunmie sambil mengompres Yuni yang bersin berulang-ulang.

“Aku juga tidak tau akan kuliah di Korea eonni, aku ikut beasiswa Brunei jadi tadinya kupikir kuliah di Brunei uhuk. .uhuk.” ucap Yuni sedikit mengigil.

“Lalu kenapa tidak menolak?” tanya Yumi sambil mengurut kaki Yuni yang memang terasa ngilu.

“Kalau ku tolak beasiswa itu hangus eonni. Aku tidak mau kehilangan peluang ini lagi.” isak Yuni mulai terdengar. Tak lama Hagi dan Hua mei masuk kekamar sambil membawa nampan berisi bubur serta segelas air dan obat.

“Kau bilang kau tidak makankan sejak sebelum berangkat ke Korea? Ini eonni buatkan bubur. Mungkin kau hanya masuk angin.” ucap Hua mei sambil meletakan nampan di sisi meja tempat tidur.

“Ini kau minum juga obatnya, mau tidak mau besok kau harus sehat. Registrasi pendaftaran harus besokkan.” ucap Hagi sambil menatap Yuni sayu.

Yuni menatap ke empat yeoja di sampingnya. Dia merasa bersyukur karena di luar dugaan dia di perhatikan dengan baik walaupun baru hari ini dia menginjakan kaki di Seoul, bahkan saling kenalpun baru beberapa jam yang lalu. Tak terasa air matanya mengalir.

“Gomawo eonnideul kalian baik sekali padaku.” Isak Yuni terharu. Keempat yeoja itu hanya tersenyum melihat saeng baru mereka yang sejak tadi banyak diam itu menangis dan berterima kasih pada mereka.

“Sekarang kau hanya perlu sehat agar kita bisa memberikan pesta penyambutan untukmu arachi.” ucap Hagi tegas dan di balas anggukan Yuni.

***

pagi itu hari sangat cerah, ke empat yeoja itu sudah sibuk dengan persiapan kuliah mereka. Begitupun dengan Yuni dia sudah bersiap dengan baju super tebal dan tak lupa sarung tangan, syal dan kaos kaki. Dengan mantap Yuni melangkah keluar kamar. Yuni langsung jadi pusat perhatian eonnideulnya, sesaat menatap Yuni tak berkedip tapi tak lama tawa meledak dari keempatnya.

“Waeyo? Apa ada yang salah?” tanya Yuni sambil menggaruk kepalnya tak gatal.

Hyunmie mendekat lalu melepas sarung tangan, syal dan juga jaket ke 2 yang Yuni Kenakan.

“Kami tau kau tak kuat dingin tapi ini bukan Winter chagi. Lagipula cuaca mulai hangat jadi kau hanya perlu pakai jaket ini saja ara.” ucap Hyunmie mengelus kepala Yuni lembut.

“Kau seperti badut tadi.” ucap Hagi santai membuat Yuni mempoutkan bibirnya.

“Sudah jangan didengar Hagi memang begitu.” ucap Hyunmie pelan dan di balas anggukan lemas dari Yuni.

“Yuni ayo sarapan dulu sebelum berangkat. Kau pergi bersama Hagikan k Kyunghee?” tanya Hua mei dan di balas tatapan tak mengerti dari Yuni.

“Kita satu universitas aku Yumi dan kau Yuni.” ucap Hagi sambil melahap nasi goreng Bejing buatan Hua mei. Yuni hanya mengangguk paham dan ikut duduk di meja makan.

“Lalu Hua mei dan Hyunmie eonni kuliah dimana?” tanya Yuni sambil mulai menyendokkan nasi bejing ke mulutnya tapi tidak jadi, sesaat Yuni mencium nasi itu dan meletakannya kembali.

“Hua mei dan aku kuliah di Inha university. Kenapa tidak jadi di makan?” tanya Hyunmie setelah menjawab pertanyaan Yuni tadi.

“Chogi Hua mei eonni, apa nasi gorengnya di campur dengan kulit babi?” Tanya Yuni sedikit ragu tak enak.

“ne aku memang mencampurnya. Wae? Apa kau alergi daging babi?” tanya Hua mei sambil menatap Yuni penasaran begitupun yang lainnya.

“Sebenarnya bukan alergi. Hanya saja aku memang di larang mengkonsumsinya, aku muslim eonnideul.” ucap Yuni kaku dia sedikit tidak enak karena pasti semua eonninya menyukai daging itu. Ke empatnya saling bertatapan lalu mengangguk mengerti lalu Hua mei memberikan kimchi pada Yuni.

“Kalau yang ini tidak di larangkan?” tanya Hua mei, sekali lagi Yuni terlihat tidak enak hati pada Eonninya itu.

‘Aku tidak suka makanan asam eonni, ah sudahlah aku tidak perlu sarapan eon. Mianhae kalau aku membuatmu tersinggung, Hagi eonni aku lebih baik duluan saja annyeong.” ucap Yuni yang langsung melesat keluar Apartmen membiarkan ke empat yeoja itu saling bertatapan.

“Sebaiknya kita mengenal yeoja itu dulu sebelum mengajaknya merayakan kedatangannya di Korea.” ucap Hyunmie yang di balas anggukan dari yang lain.

“Untung saja kita tidak berangkat tadi malam kekedai Han ajjuma.” ucap Hagi menggaruk kepalanya.

“Ne kita tidak tau Yuni tidak boleh makan daging babi. Padahalkan kedai Han ajjumakan memang itu menu utamanya.” ucap Yumi buka suara.

“Sebaiknya aku mencari resep makanan yang tidak mengandung babi untuk Yuni. Kasihan kalau dia terus menerus tidak sarapan.” Ucap Hua mei sambil mulai menyendokan kembali makan sarapannya begitupun yang lainnya.

Yeoja itu terdiam di depan pintu apartmennya. Menarik nafas dalam-dalam dan dengan lunglai berjalan menuju life, masih tidak enak dengan penghuni apartmen lainnya.

“Yang kupikirkan hanya bisa kuliah dimanapun itu. Ais aku tidak memikirkan hal lain.” dengus Yuni sambil menunduk dan masuk ke dalam life dengan lesu.

“Lalu aku sarapan apa hari ini? Uang saku yang di berikan pas-pasan. Ah nega ottokhe?” dengus Yuni sambil membenturkan kepalanya pelan-pelan ke dinding life. Tidak menyadari seorang namja yang melihatnya penuh curiga. Juga sesekali ingin tertawa melihat kelakuan yeoja di sampingnya.

“Ah terserah sajalah yang penting aku harus mencobanya dulu.” ucap Yuni teguh tapi kemudian kembali tertunduk lesu.

“Keunde aku harus makan apa?” sebal Yuni mengacak rambutnya pusing sendiri. Namja yang di belakang akhirnya tidak bisa menahan tawa dan meledak begitu saja membuat Yuni membulatkan matanya dan merutuk dalam hati ‘memalukan’ Yuni menunduk dan tidak lama life terbuka lalu secepat kilat Yuni melesat pergi dari gedung apartmen. Terlalu malu untuk menatap orang yang mentertawakannya.

“Yeoja pabo.” ucap namja itu setelah puas tertawa dan juga keluar menuju parkiran mobilnya.

***

Yuni terduduk lesu di kursi taman kampus Universitas Kyung Hee setelah hampir 2 jam mengantri untuk Registrasi ulang. Yuni menelan ludah sambil memegang tenggorokannya yang kering. Ternyata apa yang Hyunmie katakan benar hari ini sangat cerah, bahkan Yuni membuka jaketnya karena terlalu cerahnya matahari sampai Yuni pusing kepala terlalu lama mengantri. Belum lagi perutnya yang terus berbunyi minta di isi membuat Yuni semakin lemas bergerak.

“Cuaca Korea memang gila. Hari kemarin aku demam karena kedinginan apa hari ini aku harus demam karena kepanasan eoh?” umpatan terus terdengar di mulut Yuni. Dia benar-benar kepanasan padahal angin dingin masih terasa, Yuni merogok saku tas lalu melihat punya berapa lembar won hari ini untuk di pakai.

“Dua puluh lima ribu Won. Apa aku beli mie instan saja untuk mengisi perut?” Ah maldo andwe, maghku bisa kambuh kalau belum memakan nasi. Ah aku beli roti saja. Dari pada mati kelaparan.” ucap Yuni sambil berjalan menuju minimarket dekat Universitas.

@Minimarket

Yuni kembali mendesah lemas. Beberapa roti menganduk minyak babi Yuni harus teliti dan membaca komposisi roti-roti tersebut. Membuat Yuni ingin menangis karena sudah lemas dan kelaparan.

“Tidak adakah roti yang tidak berhubungan dengan babi? Aku lapar.” ucap Yuni lesu sesaat Yuni berjongkok dia bahkan tidak peduli menjadi pusat perhatian beberapa mahasiswa yang datang juga di sana dan salah satunya seorang namja yang dengan puas mentertawakannya tadi di lift. Sebenarnya Yuni bisa bertanya pada pegawai mini market itu, tapi karena Yuni orangnya pemalu dan malas bertanya dia jadi lelah sendiri.

“Ya agashi, kau sedang apa? dari tadi hanya menggerutu saja.” tanya seorang namja yang ikut berjongkok di samping Yuni, Yuni menatap orang di sampingnya sebal lalu berdiri dan melangkah pergi membawa 1 roti yang hampir 1 jam ia pilih. Tidak bernafsu melayani orang tidak sopan seperti tadi.

“Ya agashi? Cih kau akan menyesal nanti.” teriakan namja itu tidak Yuni hiraukan dan dengan cepat pergi dari mini market itu.

Yuni menatap roti di tangannya nanar, roti ini juga tidak bisa Yuni makan. Awalnya Yuni ingin membuang roti itu tapi ia urungkan ketika melihat seorang anak kecil yang melintas di hadapannya.

“Adik kecil kau mau ini?” tawar Yuni sambil berjongkok di hadapan anak kecil tersebut. Dan dengan cepat anak itu membawa pergi roti di tangan Yuni dan pergi begitu saja. Yuni berdecak tidak percaya tapi tersenyum dan mengelengkan kepala pelan. Yuni kembali berdiri lalu menghembuskan nafas lemas.

“Sekarang bagaimana nasibku?” dengan lunglai Yuni kembali berjalan. Mungkin lebih baik Yuni pulang ke apartmen dan bertanya restoran Vegetarian di Korea.

“Sepertinya aku akan jadi kambing selama di Korea.” umpat Yuni sedih.

***

Semenjak kejadian itu Yuni memang total menjadi seorang Vegetarian. Dia hanya memakan salad sehari-harinya tapi memang ada gunanya juga untuk Yuni karena berat badan Yuni turun drastis. Yuni juga terpaksa menjadi kurir pengantar eonnideulnya ketika ada yang mabuk karena Soju dan yang paling sering adalah Hagi. Karena memang Yuni juga tidak boleh minum kalaupun terpaksa harus minum bersama dia akan memilih cola untuk Yuni minum juga ketika ke empat eonninya makan daging babi Yuni memilih makan ikan dan semua itu eonnideul memakluminya.

Tapi masa-masa Yuni menjadi Vegetarian tidak berlangsung lama. Karena ternyata di Kyung Hee juga ada mahasiswa muslim. Yuni selalu hunting makanan bersama mahasiswa muslim dan entah kenapa tidak berimbas dengan berat tubuhnya yang selalu berubah.

Tidak terasa 3 bulan berlalu Yuni mulai beradaptasi dengan cuaca di Korea dan beberapa makanan di sana. Tapi Yuni masih kurang memahami budaya di Korea yang kadang membuatnya serba salah, Yuni tipe orang yang terlalu cuek pada orang asing.

Hari ini Yuni dan ke empat eonninya berkumpul di apartmen. Kebetulan hari ini juga hari Minggu membuat ke lima yeoja itu memilih menghabiskan waktu di apartmen saja. Sedang asiknya bersantai tiba-tiba bel berbunyi.

“Yumi_ah buka pintunya.” teriak Hagi di depan laptopnya, padahal Hagi sedang duduk di ruang tamu dan Yumi di kamar.

“Yaa Yumi fujiwara kau tidak tulikan.” Teriak Hagi karena Yumi tidak kunjung keluar dari kamarnya, dengan kesal Yumi keluar dari kamar lalu mendorong kepala Hagi sebal.

“YAAK.” sentak Hagi tidak terima.

“Kenapa tidak kau buka sendiri pemalas.” Sungut Yumi sambil berjalan menuju pintu. Hagi hanya mempoutkan bibirnya sebal lalu kembali fokus pada Laptop di hadapannya ‘Game’.

Yumi membuka pintu dan tersenyum ramah pada orang yang berdiri di hadapannya.

“Ah oppa ada apa?” tanya Yumi lembut.

“Boleh aku masuk dulu?” tanya namja tersebut sambil melirik kiri dan kanan.

“Ah mianhae. Silahkan masuk.” Yumi agak kikuk menghadapi namja di hadapannya.

Namja itu masuk ke apartmen tersebut tanpa rasa canggung karena memang sering datang dan cukup mengenal para penghuninya. Tatapan namja itu tertuju pada Hagi yang masih fokus menatap laptopnya dan langsung duduk di samping Hagi. Tapi tidak ada respon dari Hagi, dan lagi-lagi kepalanya didorong sembarangan.

“YAAK KAU PIKIR KEPALAKU APA.” bentak Hagi sambil melotot kearah namja di sampingnya. Membuat namja itu sedikit terkejut Yumi Hanya cekikikan melihat exspresi namja itu dan kembali melesat ke kamar untuk melanjutkan membaca komik kesukaannya.

“Wah kau memang yeoja tidak punya kelembutan.” ucap namja itu kesal sambil mengelus dadanya yang masih terkejut.

“Suruh siapa tidak sopan menoyor kepala orang sembarangan.” sungut Hagi sambil kembalh melanjutkan permainan gamenya.

“Hyunmie mana?” tanya namja itu datar.

“Wae? Mau apa kau mencari Hyunmie eonni.”

“Yaa panggil aku oppa!!”

“SHIRRO. Sudah pergi sana jangan ganggu aku.” usir Hagi pada namja itu yang di balas decakan tak percaya dari namja itu.

“Kau tidak akan bisa bermain game kalau bukan aku yang mengajari.” ucapan namja itu tidak di respon sama sekali. Sebal dengan cepat namja itu menekan tombol OFF di laptop Hagi lalu berlari ke arah dapur. Masih terdengar rutukan dan amarah Hagi tapi namja itu tidak peduli.

“Kau ini, suka sekali menggodanya.” ucap Hua mei yang sedang memasak dan menyadari ke datangan namja itu.

“Menyenangkan saja melihatnya marah-marah. Oh iya Hyunmie mana?” tanya namja itu penasaran.

“Di kamarnya.” ucap Hua mei dan dengan cepat namja itu masuk ke kamar Hyunmie tanp mendengar kelanjutan ucapan Hua mei.

Namja itu masuk perlahan ke dalam kamar Hyunmie.

“Hyunmie eoddiga?” ucap namja itu sambil mengedarkan pandang ke penjuru kamar dan tatapannya tidak sengaja menemukan seorang yeoja sedang terduduk sambil menyenderkan punggungnya ke tepi kasur. Sesaat namja itu mengerutkan keningnya seolah mengenali yeoja itu.

“Diakan? Yeoja pabo itu.” Gumam namja itu pelan lalu mendekat dan mulai memperhatikan yeoja di hadapannya sambil berjongkok. Yeoja itu yang tidak lain adalah Yuni tidak menyadari kehadiran namja di hadapannya karena memang telinganya sedang di sematkan headset dan juga mata tertutup menikmati alunan musik yang Yuni dengarkan.

“Ternyata yeoja kecil ini memang manis. Tidak cantik memang. Tapi ada yang membuat yeoja kecil ini menarik. Apa ya? Sifat bodohnya? Aku tidak mengira dia tinggal disini.” gumam namja itu sambil tetap menatap Yuni intens. Tapi tak lama Hyunmie keluar dari kamar mandi membuat namja itu berdiri dan tersenyum manis pada Hyunmie.

“Kyu? Kau sedang apa disini?” tanya Hyunmie terkejut.

“Aku ingin bertemu denganmu apa lagi? Oh iya siapa yeoja kecil itu?” tunjuk Kyuhyun pada Yuni yang masih asik mendengarkan musik. Hyunmie menatap Yuni dan tersenyum lalu menghampiri Yuni.

“Aku kenalkan padamu Kyu.” ucap Hyunmie sambil menyentuh bahu Yuni.

“Ah eonni kau sudah selesai mandi?” tanya Yuni ketika membuka mata dan di balas anggukan Hyunmie.

“Eonni ingin mengenalkanmu pada seseorang.” ucap Hyunmie sambil menatap Kyuhyun. Reflek Yuni menatap Kyuhyun, matanya membulat mulut Yuni terbuka sambil menunjuk kearah Kyuhyun.

“D. . .dia C. . .Cho kyuhyun?” gagap Yuni sambil menatap Hyunmie tak percaya. Hyunmie hanya mengangguk pelan, sedang Kyuhyun juga ikut duduk di dekat Yuni sambil mengulurkan tangannya.

“Annyeong? Cho Kyuhyun imnida.” ucap Kyuhyun sambil menujukan senyum miringnya yang membuat Yuni beku, terpaku dan shock.

***

Semenjak kejadian itu Yuni akhirnya tau kalau ke empat eonninya itu kenal baik dengan idolanya Super junior. Bahkan di antara mereka sudah ada yang menjalin hubungan. Hua mei dan Siwon lalu Hagi dan Eunhyuk. Sedang Yumi sedang dekat dengan Donghae begitu juga dengan Hyunmie dan Kyuhyun. Sedih juga ketika ke 4 bias utamanya sudah punya seseorang yang istimewa apa lagi Kyuhyun yang sangat Yuni cintai tapi Yuni senang oppadeulnya mendapatkan yeoja ataupun calon yang pantas, walaupun tidak di pungkiri hati Yuni sakit.

Ruangan itu riuh penuh pasangan muda-mudi asik dengan dunia mereka masing-masing hingga tidak memperhatikan Yuni yang hanya bisa mendesah kecil karena hanya dia yang tidak punya pasangan. Yuni memilih menyendiri di balkon apartmen itu sambil melamun menatap langit Seoul yang tidak terlihat bintang sama sekali. Padahal di Indonesia Yuni dengan mudah menemuinya. Sesekali menatap layar hp yang terpampang wajah seluruh keluarganya lalu berikutnya wajah seorang namja yang hampir 4 tahun membuat semangatnya tidak redup. Walaupun kenyataan namja itu bahkan ada di ruangan yang sama dengan Yuni, Yuni selalu beranggapan orang itu berbeda. Berusaha agar hatinya tidak terluka lebih dalam lagi. Posisinya sebagai fans tidak bisa mengganggu kebahagiaan seorang Cho Kyuhyun. Sesaat Yuni tersenyum menatap wajah itu membuat hatinya tenang.

“Kau memang suka sendirian eoh?” tiba-tiba Kyuhyun sudah ada di sampingnya membuat Yuni dengan tergesa memasukan ponselnya ke saku. Bersikap sedatar mungkin untuk mengatasi dadanya yang kurang ajar membuat dia sesak nafas. Ah atau mungkin namja di sampingnya yang salah. Yuni tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun hanya sibuk menatap kerlip lampu kota Seoul.

“Apa kau membenciku?” pertanyaan itu sukses membuat Yuni menatap Kyuhyun heran. Kenapa Kyuhyun bertanya begitu?.

“apa maksudmu Kyuhyun_ssi? Aku merasa tidak punya alasan dan hak untuk membencimu.” jawab Yuni sambil kembali menatap langit kosong.

“Geure? Lalu kenapa kau tidak pernah mau menatapku lama-lama? Atau mengobrol denganku seperti kau mengobrol dengan member lain. Tersenyum dengan leluasa pada mereka, bahkan kau memanggil hyung-hyungku oppa. Kenapa padaku kau menjaga jarak?” Kyuhyun menatap Yuni serius perasaannya tidak mungkin salah. Yeoja di samping Kyuhyun seolah membencinya dan bersikap cuek dan dingin padanya. Hyunmie memang menjelaskan pada Kyuhyun kalau Yuni sulit akrab jika kita tidak berusaha dekat dengan Yuni. Tapi Kyuhyun merasa usahanya lebih dari cukup untuk masuk kedunia Yuni yang seolah sulit untuk Kyuhyun masuki dan pahami. Yuni menarik nafas dalam lalu menatap Kyuhyun sayu seolah memberi jawaban pada Kyuhyun atas sikapnya selama ini. Sebuah senyuman tulus melengkung di bibir Yuni, senyuman yang Kyuhyun yakini tak pernah Yuni berikan pada siapapun.

“Apa aku perlu menjawabnya?” tanya Yuni sendu lalu bermaksud melangkah pergi dari balkon, tapi tangan Kyuhyun menggenggam kuat tangan Yuni, menahan yeoja ini untuk tidak pergi karena masih banyak yang belum jelas.

“Lalu kenapa?” pertanyaan Kyuhyun membuat Yuni tersenyum berarti Kyuhyun mengerti arti tatapan dan senyumannya.

“Aku hanya tidak ingin siapapun terluka. Karena membiarkanmu masuk ke duniaku. Entah itu orang lain, aku ataupun kau Kyuhyun_ssi.”

“Kau bahkan belum membiarkanku masuk. Darimana kau tau akan banyak yang terluka?” Perlahan Yuni melepas tangan Kyuhyun.

“Mencegah akan lebih baik dari pada tidak sama sekali.” ucap Yuni lirih sambil kembali berjalan.

“Bukankah rasa sakit itu sudah terasa walaupun belum mulai? Kau dan aku sudah merasakan rasa sakit itu. Kenapa kita tidak mencoba mengubahnya.” ucapan Kyuhyun kembali membuat Yuni berhenti berjalan. Benarkah? Bolehkah ia berharap? Hyunmie? Bagaimana dengan yeoja baik itu?.

“Semua tidak semudah membalikkan telapak tangan Kyuhyun_ssi. Kadang rasa sakit akan hilang sendiri selama tidak di otak atik. Mungkin posisi kita begitu. Hyunmie eonni gadis yang baik jangan sakiti dia.” Ucap Yuni lemah karena apa yang di ucapkan sama sekali bertentangan dengan hati dan pikirannya.

“LALU BAGAIMANA DENGANKU?” ucapan Kyuhyun kembali memukul hati Yuni tapi dengan sekuat tenaga Yuni pergi dari balkon menuju kamar. Melewati muda-mudi itu yang menatapnya heran, apa Kyuhyun membuatnya tidak nyaman?.

Kyuhyun terdiam semua sudah jelas sekarang. Ini justru memacunya agar bisa masuk ke dunia Yuni seberapa sulitnya itu.

***

Yuni menatap punggung Hyunmie bersalah. Sejak tadi Hyunmie tidak bicara padanya, firasatnya mengatakan eonninya mendengar percakapan antara dia dan Kyuhyun, padahal tempo hari Yuni minta maaf karena sempat membicarakan betapa dia mencintai idolanya. Yuni tidak tau Hyunmie sedang dekat dengan Kyuhyun.

“Eonni? Aku tau kau belum tidur. Mianhae aku membuatmu marah dan kecewa, aku berusaha menjaga jarak dengannya. Tapi hatiku? Eonni taukan bagaimana rasanya mencintai namja itu? Aku hanya berharap eonni tidak marah atau cemas akan perasaanku. Karena cinta itu mustahil untukku, dan tak perlu aku jelaskan eonni tau apa yang membuatnya menjadi mustahil untukku.” tak ada jawaban Hyunmie hanya diam mendengarkan. Walaupun dia sedih dan juga kecewa apa yang di kata Yuni benar adanya. Peluangnya untuk mendapatkan cinta Kyuhyun lebih besar dari Yuni. Hyunmie memang tidak sengaja mendengar percakapan Yuni dan Kyuhyun dan jujur Hyunmie kecewa, selama ini Hyunmie kira cintanya di sambut hangat oleh Kyuhyun karena Kyuhyun perhatian dan juga baik padanya.

“Dia milikmu eonni bukan milikku.” ucap Yuni lirih.

~TBC~

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: